Zulhasan: Pembentukan Poros Ketiga Butuh Keajaiban

0
110

Pertama.id- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mengaku menginginkan adanya poros ketiga di pemilihan presiden (pilpres) 2019 untuk mengalahkan petahana Joko Widodo (Jokowi).
Menanggapi keinginan itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menyatakan sangat menghargai niat tersebut.

“Kalau ada yang punya pikiran-pikiran berbeda, ya namanya di dalam pilpres ini tentu ingin yang terbaik, itu kami hargai,” jelas Zulhasan sapaan Zulkifli Hasan di gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/7).

Namun, Zulkifli berpendapat sampai saat ini poros ketiga sulit terbentuk. Dia berpandangan sampai saat ini hanya memungkinkan terbentuk dua poros saja. “Saya memang sampai hari ini masih berpendapat kemungkinan dua,” tegasnya.

Zulhasan beralasan, untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden 20 persen tentu sangat berat. Menurut dia, untuk membentuk poros ketiga dibutuhkan minimal tiga partai politik.

“Yang bisa dua itu Golkar, PDIP, Gerindra. PDIP dan Golkar kan sudah bersatu, kecuali di sana tidak sepakat. Apakah mungkin poros ketiga, mungkin saja, tapi butuh keajaiban,” ungkapnya.

Dia menegaskan persoalan dua poros bukanlah masalah sulit atau tidak untuk melawan Jokowi. Namun, kata Zulkifli, ini hanya soal persyaratan memenuhi ambang batas pencalonan presiden.

Menurut dia, kalau ambang batas pencalonan presiden nol persen, bisa memunculkan hingga lima calon.

Ketua DPP Partai Gerindra Riza Patria mengatakan dua atau tiga poros boleh-boleh saja. Namun, Riza menegaskan, dalam kondisi sekarang ini hampir sulit membangun tiga poros. Kecuali, penggugat bisa memenangkan uji materi soal presidential threshold di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Kalau nol persen tidak hanya tiga, bisa saja empat sampai lima calon,” kata Riza di gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/7).

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PDI Perjuangan Eriko Sutarduga mengatakan silakan saja jika ada partai yang pengin poros ketiga.

Menurut dia, memang partai memiliki strategi masing-masing untuk mengajukan calon presiden. Namun, kalau tidak memenuhi ambang batas pencalonan presiden 20 persen, maka tidak bisa mencalonkan antara calpres dan cawapres.

“Nah kami melihat adanya poros ini belum melihat adanya kesesuaian. Nah, ini yang kami tunggulah,” tegas Eriko, Selasa (10/7) di DPR.(boy/jpnn)

LEAVE A REPLY