Waspada! 4 Fenomena Terorisme Jelang Sidang Otak Bom Thamrin

0
174

Pertama.id-Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan teror Bom Surabaya di Jawa Timur (Jatim), pascakekacauan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba cabang Mako Brimob, Depok, menunjukkan Polda Jatim kedodoran dalam manajemen sistem deteksi dan antisipasi dininya.

“Sehingga jajaran kepolisian dan intelijen seakan tidak berdaya dan tidak solid,” kata Neta, Senin (14/5).

IPW mencemaskan situasi ini terutama jika jajaran kepolisian tidak bisa segera mengendalikan situasi. Masyarakat akan semakin resah dan merasa tidak aman, sementara bulan suci Ramadan sudah di depan mata.

“Bagaimanapun masyarakat butuh situasi aman saat melaksanakan ibadah Ramadan,” tegasnya.

Neta menuturkan, Polri dan kalangan intelijen perlu bekerja superkeras untuk menghentikan aksi teror ini agar tidak ada celah bagi teroris untuk beraksi.

Terutama menjelang sidang tuntutan terhadap tokoh teroris Aman Abdurrahman yang rencananya akan berlangsung Jumat (18/5) ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Dia mengingatkan bahwa Aman adalah otak Bom Thamrin. Ucapan dan perintah tokoh JAD ini sangat didengar dan diikuti para pengikutnya termasuk melakukan aksi bom bunuh diri.

“Situasi ini perlu diantisipasi kepolisian. Pagar betis harus dilakukan agar pengikut Aman tidak punya celah untuk menebar teror balas dendam,” katanya.

Melihat teror yang beruntun di Surabaya jajaran kepolisian harus lebih cermat lagi. Sebab kasus Surabaya memunculkan empat fenomena dalam dunia terorisme Indonesia.

Pertama, inilah pertama kali satu keluarga terlibat dalam melakukan serangan teror bom bunuh diri.

Kedua, keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri makin masif.

Ketiga, para teroris makin nekat mendatangi polisi, meskipun di markasnya, untuk melakukan serangan.

Keempat, kasus Bom Surabaya menunjukkan bahwa pelaku teror bom bunuh diri bukan lagi hanya dari kalangan ekonomi lemah tapi juga sudah melibatkan kalangan ekonomi mapan.

Selain itu kasus aksi teroris yang beruntun ini menunjukkan bahwa program deradikalisasi yang digalang pemerintah gagal total. Jaringan baru teroris bermunculan dan yang tertidur bangun lagi.

“Sepertinya pemerintah perlu mengevaluasi banyak hal agar situasi keamanan di negeri ini kembali kondusif, terutama saat Ramadan, Idul Fitri dan pelaksanaan pilkada serentak,” tuntas Neta. (boy/jpnn)

LEAVE A REPLY