Wakil Ketua MPR: Jaga Persatuan, Jangan Mau Diadu Domba

0
33

Pertama.id-Sempat digugat di Mahkamah Konstitusi, Empat Pilar Kebangsaan pun berganti nama jadi Empat Pilar MPR RI.

Program yang disepakati para wakil rakyat sebagai alat menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara itu pun tetap berjalan.

Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara; UUD Negara RI tahun 1945 sebagai konstitusi negara; NKRI sebagai bentuk negara; dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Pilar ditafsirkan sebagai tiang. Sedangkan Pancasila adalah dasar negara. Makanya dulu pernah disoal. Makanya kita ubah namanya,” kata Wakil Ketua MPR Mahyudin saat membuka sosialisasi Empat Pilar di kantor Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Rabu, 17 Oktober 2018.

Dalam kesempatan itu, Mahyudin yang pernah menjadi Wali Kota Kutai Timur——wali kota termuda di Indonesia pada masanya——mengingatkan Empat Pilar ini penting untuk membangkitkan semangat cinta Tanah Air, semangat gotong royong.

Dari atas mimbar, di hadapan ratusan rakyat Sungai Kunjang yang memenuhi arena pertemuan, anak Kaltim pertama yang menjabat di lembaga tinggi negara Republik Indonesia itu bercerita tentang kisah perjuangan yang syarat pengkhianatan.

“Cut Nyak Dien ditangkap karena dikhianati Tengku dari Aceh juga. Banyak lagi kisah pejuang kemerdekaan yang melawan penjajahan dikhianati oleh orang kita sendiri. Politik adu domba. Pecah belah. Sampai hari ini, jangan mau diadu domba pakai hoax. Jangan latah menyebar fitnah,” serunya.

Pria yang belakangan suka mendaki gunung ini menerangkan, melihat potensi alam Indonesia, bangsa asing tidak tinggal diam.

“Mereka ingin kuasai. Selama tidak ada kesadaran cinta tanah air, tidak kompak, tidak ada persatuan Indonesia, maka kita tidak akan pernah jadi tuan rumah di negeri sendiri. Selama masih mental inlander maka hasil alam Indonesia dinikmati asing. Dan rakyat tetap miskin,” paparnya.

Maka, dia menghimbau agar rakyat jangan mau diadu domba. “Buang jauh-jauh mental primordialisme, rasisme, kesukuan, fanatisme agama yang berlebihan.”(Wow/jpnn)

LEAVE A REPLY