Wabah DBD: Mengapa Umur Nyamuk Tahun Ini Lebih Panjang?

0
14

Pertama.id-Jumlah penderita DBD (demam berdarah dengue) di Jawa Timur tertinggi di Indonesia. Menurut data Selasa lalu (29/1) ada 2.657 orang yang terjangkit DBD dan 47 diantaranya meninggal.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoontik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, Rabu (30/1) mengatakan bahwa secara nasional ada 13.683 kasus DBD se-Indonesia per Selasa lalu.

Selain Jatim, yang tertinggi lainnya adalah Jawa Barat dan NTT. Masing-masing ada 2.008 kasus dan 1.169 kasus. ”Jika dilihat dari data sebelumnya maka kami belum menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa, Red),” ucapnya.

Menurutnya iklim tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun ini cenderung lebih banyak intensitas hujannya. Padahal adanya genangan dan suhu yang lembab dapat mempengaruhi kehidupan nyamuk.

”Telur nyamuk ada tempat menetas dan karena suhu jadi berpengaruh ke umur nyamuk. Usianya semakin panjang,” ungkapnya.

Lalu kenapa di Jawa Timur jumlah penderitanya banyak? Nadia mengatakan ada beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah soal antisipasi dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dimungkinkan tidak serius.

”Tahun lalu Jatim juga tertinggi dengan penderita terbanyak di Kota Malang. Nah sekarang di Kediri. Mungkin PSN Malang sudah dibenahi,” tuturnya.

Nadia menambahkan bahwa ada dua cara dalam pengendalian jumlah penderita DBD. Pertama pengendalian larva dengan meminimalisir tempat berkembang biak. Sedangkan untuk nyamuk dewasa dapat dikendalikan dengan fogging. ”PSN harusnya rutin,” kata Nadia.

Sementara itu Ketua Divisi Infeksi dan pediatric Tripik Departemen Kesehatan Anak RSCM-FKUI dr Mulya Rahmi Karyanti SpA(K) menuturkan bahwa ada tiga kondisi yang berisiko ketika DBD. Kondisi tersebut adalah obesitas, perempuan hamil, dan bayi. ”Reaksinya lebih berat,” ungkapnya.

Infeksi virus dengue bisa terjadi melalui plasenta. Menurut Karyanti, ibu hamil yang terinfeksi DBD bisa menularkan ke janinnya. Apalagi terjadi sesaat sebelum melahirkan.

Pada dewasa, kerap ditemui kasus yang terlambat tertangani. Biasanya terjadi pada mereka yang memiliki penyakit penyerta. Sedangkan pada anak-anak yang terjadi adalah berisiko mengalami syok hipoglikemik.

”Kasus dewasa biasanya datang sudah dalam keadaan pendarahan. Sedangkan anak-anak biasanya lemas,” tuturnya. (lyn)

LEAVE A REPLY