Vaksin Nusantara Masuk Jurnal Medis Internasional, Selamat untuk Dokter Terawan

0
45

Pertama.id – Menemukan vaksin yang bisa bertahan lama dan efektif melawan virus dengan tingkat mutasi tinggi, seperti SARS-CoV-2 masih menjadi tantangan hingga saat ini.

Hal itu tertulis dalam artikel berjudul “Developing dendritic cell for SARS-CoV-2 vaccine: Breakthrough in the pandemic”, yang dikirim ke Vaccines and Molecular Therapeutics, bagian dari jurnal Frontiers in Immunology dan diterbitkan pada Selasa, 6 September 2022.

Dalam artikel tersebut dituliskan, sejumlah vaksin yang telah tersedia mengalami penurunan efektivitas dan memerlukan pemberian booster.

Sebagai sel penyaji antigen profesional, Sel Dendritik juga bisa mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, terutama sel T.

“Kemampuan ini membuat sel dendritik telah dikembangkan sebagai vaksin untuk beberapa jenis penyakit,” demikian tulisan dalam jurnal tersebut, dikutip Rabu (7/9).

Artikel tersebut menjelaskan pembuatan vaksin yang berorientasi untuk menginduksi respons sel T yang kuat bisa dibentuk dengan memanfaatkan sel dendritik.

“Pada artikel ini, kami membahas dan menggambarkan peran sel dendritik dan sel T dalam patogenesis infeksi SARS-CoV-2 dan merangkum peran penting sel dendritik dalam pembentukan kekebalan sel T,” sebut artikel itu.

Artikel tersebut disusun oleh eks Menteri Kesehatan, Prof Dr Terawan Agus Putrantio, peneliti utama Tim Vaksin Nusantara Kolonel dr Jonny Sp. PD, K.GH M.Kes, MM, CAPD; Raolian Irfon dan Enda Cindylosa Sitepu dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Indonesia.

“Kami menyusun konsep dasar pengembangan sel dendritik untuk vaksin SARS-CoV-2. Vaksin berbasis sel dendritik untuk SARS-CoV-2 berpotensi menjadi vaksin efektif yang memecahkan masalah yang ada,” tulisnya.

Pendekatan ini, jelasnya, memanfaatkan kemampuan untuk mempresentasikan antigen dan menginduksi sistem kekebalan yang dimiliki oleh DC.

DC yang belum matang dapat diperkenalkan dengan antigen SARS-CoV-2, misalnya, protein S yang telah terbukti menimbulkan respons imun.

Proses tersebut bisa dikembangkan baik secara in-vivo maupun ex-vivo.

Namun, pendekatan ex-vivo bisa menjadi pilihan dalam pengembangan vaksin ini karena kelayakannya dan memperpendek proses yang seharusnya terjadi di dalam tubuh.

“DC yang telah terpapar antigen akan mengalami pematangan dan mengalir ke organ limfoid, kemudian mempresentasikan antigen ke sel T naif sehingga terbentuk kekebalan spesifik terhadap SARS-CoV-2 (71),” urai artikel tersebut.

Pendekatan tersebut saat ini sedang dikembangkan di Indonesia dan dikenal dengan nama Vaksin Nusantara.

Sebelumnya, hasil uji klinis Vaksin Nusantara yang digagas dokter Terawan telah terbit di jurnal medis internasional Human vaccines & Immunotherapeutics yang terindeks di Jurnal ilmiah Scopus dengan impact factor yang sangat tinggi 8.34.

Tulisan bertajuk “A personal COVID-19 dendritic cell vaccine made at point-of-care: Feasibility, safety, and antigenspecific cellular immune responses itu dirilis pada 26 Agustus 2022.

“Dengan dimuatnya Vaksin Nusantara dalam jurnal ini, menunjukkan bahwa Vaksin Nusantara dibuat bukan tanpa dasar-dasar ilmiah,” kata Peneliti Utama Vaksin Nusantara, Kolonel dr. Jonny, Sp.PD-KGH, M.Kes, MM.

Ditambahkan dr Jonny, yang pertama dimuat di jurnal Expert Review of Vaccine, memberikan gambaran alasan-alasan kenapa kita buat Vaksin Nusantara di luar tubuh.

“Yang kedua, yang sekarang dimuat di Frontier in Immunology memberikan gambaran kenapa Vaksin Nusantara menggunakan sel Dendritik,” pungkas Kolonel dr. Jonny.

Sumber : JPNN

LEAVE A REPLY