Upaya Densus 88 Cegah Teroris Memanfaatkan Momentum 22 Mei 2019

0
34

Polri memastikan bahwa penangkapan terhadap tujuh mantan anggota ISIS bukan satu-satunya jalan yang dilakukan untuk menangani terorisme.

Polri juga menempuh jalan deradikalisasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) untuk menangani mantan kombatan ISIS yang kembali ke Indonesia.

Kadivhumas Polri Irjen M. Iqbal mengatakan, penangkapan terhadap tujuh mantan anggota ISIS itu hanya satu dari sekian banyak pendekatan, ada juga mantan kombatan ISIS yang bekerjasama dengan Polri. ”Seperti Usman Mahmadi yang memiliki keahlian bidang informasi dan teknologi (IT),” tuturnya.

Polri menyambut dengan baik kerjasama dengan setiap pihak, baik kementerian maupun mantan kombatan ISIS. Prinsipnya, kerjasama untuk mantan teroris yang ingin kembali ke jalan yang benar. ”Tapi, kita cerdas dalam menanggapi semacam ini,” jelasnya.

 

Terkait perkembangan pasca penangkapan tujuh mantan kombatan ISIS dan dua terduga teroris, Iqbal menjelaskan bahwa Densus 88 Anti Teror sedang menelitinya secara mendalam. Untuk daerah mana saja, belum bsia disebutkan dengan pasti. ”Yakinlah kami sedang berupaya melakukan preventife strike,” jelasnya.

Untuk jangka panjang, Densus 88 Anti Teror mencegah aksi teror dimanapun. Untuk jangka pendek, saat ini mencegah upaya memanfaatkan momentum saat 22 Mei. ”Target ini harus kami cegah,” paparnya.

Sebelumnya, Densus 88 Anti Teror menangkap sembilan terdugua teroris. Penangkapan tersebut belum dipastikan untuk rencana aksi teror yang mana. Beberapa hari sebelumnya juga terdapat penangkapan terhadap dua terduga teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi.

Kelompok ini terhubung dengan kelompok Solihin, yang ingin menyerang saat aksi people power. Kelompok ini mencoba memanfaatkan aksi massa demi membuat konflik dengan skala yang lebih besar. (idr)

sumber:JPNN

LEAVE A REPLY