Status Politik Kiai Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno Setara Saat Debat

0
37

Pertama.id-Cawapres nomor urut 01 Kiai Ma’ruf Amin akan berhadapan dengan Sandiaga Uno sebagai cawapres nomor urut 02 dalam gelaran debat ketiga Pilpres 2019 pada 17 Maret mendatang.

Dalam kaitan itu, Kiai Ma’ruf Amin diminta untuk menanggalkan atribut ulama pada saat berhadapan dengan Sandiaga. Pasalnya, status dan posisi politik Kiai Ma’ruf dan Sandiaga saat debat nantinya setara dalam politik.

Demikian benang merah komentar pengamat politik, Hendri Satrio dan pengamat politik CSIS Arya Fernandes secara terpisah di Jakarta, Kamis (14/3).

Hendri menyarankan Kiai Ma’ruf untuk menanggalkan atribut ulama pada saat berhadapan dengan Sandiaga.

“Kiai Ma’ruf masih menggunakan ‘jaket ulama’, dia masih jadi Ketua MUI. Kalau sepengetahuan saya itu, ulama enggak boleh didebat. Ulama ini levelnya di atas kita. Ini guru kita,” ujar Hendri dalam diskusi ‘Siapa Berani Mendebat Ulama’ yang digelar Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Hendri menyebut bila ‘jaket ulama’ Ma’ruf akan menyulitkan Sandiaga. Untuk itu Hendri menyarankan agar Ma’ruf menegaskan diri sebagai cawapres.

“Dia harus katakan bahwa saya Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden 01. Itu fair,” kata Hendri.

“Kalau kompetisinya antara sosok ulama dengan Bang Sandi, apapun yang dilakukan Bang Sandi itu akan salah. Kalau Sandi mendesak, ‘Wah, Sandiaga Uno mendesak ulama’. Kalau Sandi menyampaikan pertanyaan yang berat, ‘Sandiaga Uno berniat untuk mempermalukan ulama’,” imbuh Hendri.

Terpisah, Pengamat politik dari CSIS Arya Fernandes berharap kandidat capres dan cawapres, tim Sukses dapat memahami dan menekankan lebih banyak kepada kualitas debat.

Dalam kaitan dengan debat cawapres antara Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, menurut Arya, posisi keduanya setara dalam politik.

“Mereka sama-sama dicalonkan oleh koalisi partai, sama-sama memenuhi persyaratan pencalonan, sama-sama berstatus sebagai calon wakil presiden dan kalau mereka terpilih mereka akan menjadi wakil presiden kita,” kata Arya Fernandes saat diskusi bertajuk “Menakar Efektivitas Debat Capres Dalam Meraih Suara” di Media Center DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/3).

Menurut Arya, dari segi status keagamaan tentunya akan berbeda. Status keagamaan Kiai Ma’ruf Amin adalah mantan Rais Aam PBNU dan ini yang membuat statusnya menjadi berbeda.
Tetapi karena evennya adalah politik tentu status menjadi setara, sama-sama menjadi calon wakil presiden.

Sementara itu, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, tidak sependapat dengan Hendri. Andre menyebut Ma’ruf sudah menjadi seorang politikus sejak 1971.

“Dari tahun ’71, beliau (Ma’ruf) sudah menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dari utusan golongan. Lalu, ’73-’77 menjadi anggota DPR RI dari PPP, 1977-1982 beliau menjadi anggota DPRD DKI dari PPP. Tahun 1997-1999 anggota MPR RI (dari) PKB. Lalu 1999-2004 beliau adalah anggota DPR RI dari PKB. Terakhir beliau menjadi anggota Wantimpres 2007-2014,” kata Andre.
Andre pun menyebut Ma’ruf sebagai politikus senior, yang mana debat kelak disebutnya akan menjadi ajang sawala antara politikus senior melawan politikus muda yaitu Sandiaga. Andre mengatakan bila debat ketiga nanti bukanlah tentang ‘siapa yang berani mendebat ulama’ seperti tajuk diskusi tersebut.

“Beliau politikus ulung. Kalau beliau bukan politisi ulung, tidak mungkin beliau jadi wakil presiden Pak Jokowi. Jadi menurut saya, besok itu bukan siapa yang berani mendebat ulama, tapi politisi senior Ma’ruf Amin melawan politisi muda Sandiaga Uno,” ucapnya.

Sementara itu Masinton Pasaribu yang turut hadir dalam diskusi itu menekankan bila debat ketiga akan fokus pada substansi. Masinton yang merupakan juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin itu enggan berbicara tentang anggapan yang berdasar ‘katanya’, bukan fakta dan data.

“Kalau melihat dari apakah nanti berani mendebat ulama, tentu kapasitasnya sebagai cawapres. Tentu Pak Kiai Ma’ruf Amin menyampaikan substansi dan materi yang disampaikan berdasarkan fakta dan data, bukan yang katanya-katanya tadi,” ucap Masinton.(fri/jpnn)

LEAVE A REPLY