Respons Bursah Zarnubi Pasca-Pengumuman Hasil Pilpres 2019

0
26

Pertama.id-Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi merespons situasi terakhir pasca-pengumuman hasil pemilu serentak 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum pada Selasa (21/5/2019) dini hari.

Bursah menilai budaya demokrasi di Indonesia masih belum mapan. Hal ini terlihat dari adanya kurangnya pengakuan tehadap kinerja lembaga-lembaga negara. Padahal, sudah ada kesepakatan bahwa kontestan Pilpres sudah siap mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Bursah yang juga aktivis politik tersebut juga mengkritik elite yang yang masih dijadikan partai politik sekadar alat transit untuk mencari kekuasaan.

“Budaya kita susah menerima kalah menang, di banyak negara misalnya Amerika, ada perbedaan tetapi setelah pemilu selesai mereka melupakan perbedaan. Ini yang harus kita contoh, karena yang menang dan yang kalah adalah pemimpin kita semua,. Kita harus terima sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Bursah saat tausiah politik dan buka puasa bersama yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertema “Ramadan dan Amal Saleh Sosial Politik” bersama berbagai aktivis organisasi dan mahasiswa Se-Jabodetabek di Aula DPP PGK, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (25/5/19).

Pada kesempatan yang sama, Cendekiawan Muda Yudi Latief juga mengataan pada saat pemilu ada momen untuk bersaing dan ada momen di mana kita harus bersatu kembali.

Yang perlu dipikirkan ke depan, menurut Yudi Latief, siapa pun yang menang harus menjadi kemenangan bagi kita semua. “Jadi bukan hanya siapa yang menang tetapi bagaimana kemenangan itu menjadi kemenangan bersama sesuai cita-cita negara kita agar menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” kata Yudi.

Lebih lanjut, Yudi mengatakan jika pemilu sudah selesai yang selanjutnya dilakukan adalah bagaimana cita-cita nasional dapat dicapai.

“Negara kita ini banyak terjadi kekacauan karena kekurangan achievement lihat saat Asian Games dan Asian Para Games dimana negara kita mendapatkan peringkat di urutan atas, seluruh warga negara Indonesia bersatu mendukung atlet-atlet tanpa membedakan ras dan suku. Ini yang perlu kita lanjutkan,” katanya.

Selanjutnya Penulis buku Negara Paripurna ini juga menjelaskan mengenai kontestasi pemilu di India yang dengan total 900 juta pemilih tidak mengeluarkan dana yang lebih banyak dari Indonesia.

“Ini yang perlu dicontoh, bangsa kita harus bisa mulai melek teknologi, bangsa kita harus harus bisa berprestasi di berbagai bidang, Kemenangan lima tahunan bukan hanya kemenangan sang calon, tetapi juga kemenangan negara sehingga mendorong terwujudnya visi dan misi negara, sesuai amanat UU 1945,” kata Yudi Latief.(fri/jpnn)

LEAVE A REPLY