Pileg dan Pilpres 2019 Bisa Picu Gangguan Jiwa Lho..

0
97

Pertama.id-Dua hajatan demokrasi Indonesia, pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) dikhawatirkan akan memicu gangguan kejiwaan.

Walaupun persentasenya sedikit, tapi akan membuat banyak orang mengalami stres, depresi, cemas, dan emosional.

Dr Abdullah Antaria, fungsional perencana Direktorat Kesehatan Jiwa (Pencegahan Pengendalian Masalah Kesehatan jiwa dan Napza) Kemenkes mengungkapkan, walaupun belum ada penelitian tentang hubungan pilkada, pileg, pilpres dengan gangguan kejiwaan tapi potensi itu ada.

Walau kecil. Misalnya, calon yang kalah akan depresi karena modal keluarnya banyak.

“Memang saat mendaftar sudah dicek kesehatan jiwanya tapi peluang terjadinya gangguan mental emosional saat tidak terpilih tetap ada,” kata Abdullah dalam diskusi publik kesehatan jiwa yang digagas Universitas Paramadina dan Bakeswa (Badan Kesehatan Jiwa), Kamis (19/7).

Sementara itu Prof Byron J Good, peneliti dari Harvard Medical School (Harvard University) menyatakan, semua gangguan kejiwaan bisa disembuhkan.

Seperti kasus tsunami Aceh, banyak yang depresi dan alami gangguan jiwa tapi bisa disembuhkan.

Menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa, lanjutnya, bisa dilakukan bila standar pelayanan minimal (SPM) jelas.

“Mari kita membayangkan pelayanan kesehatan di Indonesia ke depan seperti apa. Jika kita percaya orang dengan gangguan jiwa paling berat bisa pulih dan sembuh maka kita harus membangun sistem kesehatan jiwa yang seperti apa. Dalam komunitas rakyat Indonesia ada asumsi orang sakit jiwa susah sembuh. Padahal kalau penangannya sesuai SPM, orang sakit jiwa seberat apapun bisa sembuh,” bebernya.

Dia menambahkan, pasien penyakit jiwa bisa sembuh total bila dibangun sistem, mulai dari keluarga hingga komunitas.

Orang yang mengalami gangguan jiwa harus mendapat tempat layaknya orang normal, diberi support dan training untuk bisa bekerja lagi.

“Itu sudah saya praktikkan di Aceh dengan membuat sistem. Mereka bisa sembuh dari trauma dengan terapi agama, sosialisasi keluarga. Puskesmas juga dilibatkan karena di situ tempat pasien diobati,” tandasnya. (esy/jpnn)

LEAVE A REPLY