Pertashop, Cara Pertamina Pangkas Jalur Distribusi BBM

0
483

Pertama.id-KEHADIRAN Pertashop di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang menjadi angin segar bagi warga di sekitarnya. Penantian panjang warga kaki Gunung Slamet untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) berkualitas dari Pertamina, terwujud sudah.

Terhitung sejak 1 Juli 2020, Pertashop hadir melayani kebutuhan BBM Pertamina secara lebih dekat dengan masyarakat. Pertashop Pulosari yang menempati area sekitar 200 meter persegi itu menjadi solusi warga yang selama ini kesulitan mendapatkan BBM Pertamina dengan harga resminya.

Warsito (43), warga Pulosari, Kabupaten Pemalang yang kesehariannya bekerja sebagai pemasok komoditas sayur dari petani kaki Gunung Slamet ke Kota Pemalang mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Pertashop di Pulosari. Pasalnya, selama ini untuk menuju SPBU terdekat harus menempuh jarak hingga 10 kilometer lebih dari lokasi tempat tinggalnya.

“Jarak rumah ke SPBU jauh. Kalau kondisi BBM mepet pas masih di rumah jelas bikin was was. Untuk ngejar sampai ke SPBU, seringkali harus dorong mobil karena belum sampai SPBU saja BBM sudah kering duluan,” ujar Warsito, saat bertemu Jateng Pos di Pertashop Pulosari.

Warsito pun tak menampik, jika kondisi terdesak dengan BBM yang minim, seringkali ia terpaksa harus memanfaatkan jasa penjualan BBM eceran yang dijual warga sekitar. Namun diakuinya, dari sisi harga memiliki selisih yang relatif tinggi ketimbang harga resmi BBM yang ditetapkan Pertamina.

“Saat belum ada Pertashop, kalau kehabisan bensin di jalan, terpaksa beli eceran. Tapi mahal, belum lagi gak ada jaminan kualitas, dan pelayanannya juga ala kadarnya,” kata Warsito, yang selama ini menggunakan kendaraan bak terbukanya sebagai sarana angkutan sayuran, dari petani ke pasar.

Menurut Warsito, saat ini dengan harga Rp9.000 per liter, ia sudah bisa mendapatkan BBM jenis Pertamax. Sedangkan jika harus membeli eceran di kios-kios milik warga, ia harus merogoh kocek hingga Rp11.000 per liter untuk Pertamax dan Rp9.500 per liter untuk Pertalite.

“Sekarang lewat Pertashop selain lebih dekat, irit jarak, tentu juga irit duit. Dengan Rp9.000 per liter sudah dapat BBM berkualitas bagus, dengan RON tinggi yang resmi dari Pertamina, bikin mesin makin halus dan awet,” tukasnya.

Dengan kontur medan pegunungan yang dilaluinya tiap hari, Warsito rata-rata membutuhkan sekitar 10 liter BBM per hari untuk kendaraannya. Kehadiran Pertashop di desanya menjadikan pengeluarannya untuk konsumsi BBM hemat antara 15-20 persen ketimbang pembelian di kios eceran.

Kepada Jateng Pos, Amar maulana (19), Petugas Pertashop Pulosari menuturkan, antusias warga akan kehadiran Pertashop di Pulosari cukup tinggi. Selama 2 bulan beroperasi, rata-rata konsumsi BBM di Pertashop Pulosari bisa mencapai 500 liter per hari.

“Sehari rata-rata 500 liter Pertamax. Disini memang baru ada satu dispenser, untuk Pertamax saja,” terangnya.

Amar menambahkan, Pertashop Pulosari ini memiliki kapasitas tanki timbun 3.000 liter. Sedangkan distribusi BBM dari Depo Pertamina Tegal dilakukan setiap 4 hari sekali, dengan pengisian 2.000 liter.

Menurut Amar, Pertashop Pulosari merupakan hasil kerjasama Pertamina dengan mitra dan pemerintah desa setempat. Dalam operasionalnya, Pertashop Pulosari dioperatori 2 orang petugas yang bekerja dalam 2 shift, dengan waktu operasional mulai jam 06.30 WIB hingga 20.00 WIB.

“Untuk 3 bulan pertama Pertashop dikelola oleh Pertamina, dan selanjutnya pengelolaan akan diserahkan ke desa,” ungkap Amar.

Kehadiran Pertashop juga dirasakan warga masyarakat lereng Gunung Slamet, di desa Limpakuwus, Kabupaten Banyumas. Melalui Pertashop Limpaluwus, warga sekitar kini tak perlu bersusah payah mendapatkan BBM resmi Pertamina.

Lokasi yang cukup terpelosok, sebagai jalur alternatif menuju sejumlah tempat wisata di sekeliling Baturaden, Pertashop Limpakuwus dinilai sangat membantu warga dalam mengkonsumsi BBM untuk kendaraannya secara lebih dekat. Bahkan, dari sisi harga relatif murah ketimbang harus membeli eceran di kios warga.

“Kalau ke SPBU yang terdekat harus ke Sumbang, sekitar 15 km. Selama ini lebih sering beli eceran meski harga terpaut jauh dari harga resmi BBM di SPBU Pertamina,” ujar Darso (27), warga Limpakuwus, yang kesehariannya berjualan cilok dari dusun ke dusun di Limpakuwus dan Baturaden.

Lain halnya dengan pasangan Sigit (25) dan Popi (23), warga Kranji, Purwokerto, yang bertemu Jateng Pos usai mendorong sepeda motornya yang mogok akibat kehabisan BBM. Sejoli yang baru saja menikmati wisata dan panorama alam di sekitaran Baturaden itu merasa sangat terbantu dengan adanya Pertashop Limpakuwus.

“Untung ada Pertashop di Limpakuwus. Jadi, ndorong motornya gak kejauhan. Mana jalannya naik turun dan banyak yang rusak,” tukasnya.

Seperti diketahui, Pertashop merupakan program nasional, kerjasama antara Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan Pertamina sebagai upaya pemerataan distribusi produk-produk Pertamina hingga ke pelosok-pelosok desa. MoU kerjasama pembangunan Pertashop sendiri dilakukan antara Kemendagri dan Pertamina pada 18 Februari 2020, di Semarang.

Sementara, peresmian Pertashop pertama kalinya secara nasional dilakukan pada 27 Februari 2020, di Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, oleh Direktur Pemasaran Pertamina, Mas’ud Khamid. Pertamina menargetkan, kehadiran Pertashop bisa mencapai 2.000 titik hingga akhir tahun 2020 ini di seluruh Indonesia.

Senior Supervisor Communication Pertamina MOR IV, Arya Yusa Dwicandra mengatakan, khusus di wilayah Pertamina MOR IV Semarang yang membawahi provinsi Jateng-DIY, kehadiran Pertashop bisa mencapai 400 unit akhir tahun ini. Adapun hingga awal September, tercatat sudah ada 70 unit Pertashop yang beroperasi di sejumlah desa, di Jateng-DIY.

“Di wilayah Pertamina MOR IV, saat ini 70 unit Pertashop sudah dirampungkan hingga akhir Agustus 2020,” katanya.

Arya menambahkan, Pertamina mengklasifikasikan Pertashop ke dalam 3 kategori, yakni kategori Gold (400 liter/hari), Platinum (1.000 liter/hari) dan Diamond (3.000 liter/hari). Adapun nilai investasi pendirian Pertashop bervariasi, antara Rp80-200 juta.

“Untuk produk yang tersedia di Pertashop saat ini baru terbatas pada BBM jenis Pertamax saja, karena keterbatasan jumlah dispenser di masing-masing Pertashop. Tapi seiring berjalannya waktu nanti akan kita lengkapi produk-produknya, seperti LPG, Oli, dan produk Pertamina lainnya,” imbuhnya.

Arya menegaskan, kehadiran Pertashop sedari awal memang untuk menjangkau masyarakat pedesaan/pelosok yang masih sulit mendapatkan produk BBM dan LPG Pertamina. Tercatat, masih ada lebih dari 7.000 kecamatan yang belum memiliki SPBU di seluruh Indonesia.

“Pemilihan lokasi untuk Pertashop ini sesuai dengan tujuan awal, di desa-desa hingga pelosok yang jauh dari SPBU. Ini sekaligus upaya Pertamina lebih dekat dengan masyarakat melalui produk-produknya yang terjangkau dan berkualitas. Dan tentu dengan standar layanan Pertamina,” tegasnya.

Terkait langkah-langkah pendirian Pertashop, Arya menjelaskan, pemohon dari pihak desa maupun bersama mitranya melakukan pengajuan dengan menyertakan alamat lokasi usaha, badan hukum, dokumen badan usaha, dan sebagainya.

Selanjutnya akan dilakukan verifikasi, yang meliputi survey lapangan dan studi kelayakan. Kemudian terkait administrasi, mencakup proses pendanaan, termasuk skema pendanaan pemerintah desa.

“Setelahnya nanti masuk proses rancang bangun, finalisasi, dan operasional. Untuk operasional tahap awal akan dipegang Pertamina, dan selanjutnya Pertamina tinggal mendampingi saja,” pungkasnya.(JP/Red)

 

LEAVE A REPLY