Penentuan Duel Djarot dan Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018

0
62

Pertama.id, Jakarta – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu dari 171 daerah yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018. Ajang pemilihan kepala daerah yang diikuti oleh dua pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur akan berlangsung hari ini, Rabu (27/6).

Pasangan calon nomor urut 1, yakni Edy Rahmayadi-Musa Rajeksah diusung oleh lima partai. Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Sedangkan pasangan calon nomor urut 2, yakni Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus atau ‘Djoss’ diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pertarungan Edy dan Djarot di Sumatera Utara terbilang panas. Mereka menjadi dua pasangan kandidat yang bersaing setelah JR Saragih-Ance Selian digugurkan KPU karena dianggap tak memenuhi syarat pencalonan.

Kontestasi Pilgub Sumut juga diwarnai isu kelayakan putra daerah yang menerpa Djarot. Djarot yang berasal dari luar Sumut sorotan. Mantan pemimpin DKI Jakarta itu lahir di Magelang, Jawa Tengah dan sempat dibesarkan namanya saat menjadi Wali Kota Blitar.

Perpindahan domisili Djarot menjadi warga Medan belakangan jadi sorotan karena dianggap prosesnya sangat cepat, tak seperti warga lain yang merasa dibuat ribet saat mengurus KTP.

Penentuan Duel Djarot dan Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018Djarot Syaiful Hidayat diusung PDI Perjuangan untuk bertarung di Pilgub Sumatra Utara. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Sementara Edy jadi sorotan karena latar belakang dia di dunia militer. Terjunnya eks Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu di dunia politik sempat dianggap sebagai gejala yang mengarah pada dwifungsi TNI di dunia demokrasi. Edy dalam hal ini telah menjamin bakal menjaga netralitas.

Edy-Musa memiliki sejumlah program unggulan demi memenangkan kontestasi politik tingkat daerah kali ini. Secara umum, pasangan ini ingin warga Sumut merasa sejahtera. Caranya, menyediakan sandang pangan yang cukup, rumah yang layak, pendidikan yang baik, kesehatan yang prima, mata pencaharian yang menyenangkan, serta harga-harga yang terjangkau bagi masyarakat.

“Hal itulah yang menjadi salah satu dasar saya bertekad maju bersama Musa Rajecksha menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Saya ingin ke depan tidak ada lagi masyarakat miskin di Sumatera Utara yang kita cintai ini,” kata Edy beberapa waktu lalu.

Sedangkan Djarot-Sihar memiliki program kerja unggulan mengubah citra negatif provinsi Sumut yang selama ini sering dikaitkan dengan perilaku koruptif. Caranya memperbaiki sistem pelayanan kepada masyarakat agar dan transparansi.

“Sumut bukan ‘semua urusan melalui yang tunai’, tapi ‘semua urusan mudah dan transparan’,” kata Djarot beberapa waktu lalu.

Di bidang kesejahteraan masyarakat, Djarot-Sihar bakal menerapkan Kartu Sumut Pintar. ‘kartu sakti’ ini diharapkan bisa mewujudkan keadilan yang merata dan membantu warga miskin di Sumut.

Tiga kandidat Pilgub Sumut merupakan putra daerah. Hanya Djarot saja yang berasal dari luar Sumut. Ia lahir di Magelang, Jawa Tengah. Djarot pernah menjabat sebagai Wali Kota Blitar. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta.

Terkait jumlah pemilih, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Sumut menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 9.052.529 jiwa. Para pemilih itu akan mencoblos di 27.478 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Penentuan Duel Djarot dan Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah saat mendaftar ke KPU Sumut, Senin (8/1). (CNN Indonesia/Zulkarnai)

15 Ribu Personel Gabungan Dikerahkan.

Kapolda Sumatera Utara Komisaris Jendral Paulus Waterpauw mengatakan sekitar 15 ribu personil gabungan dari berbagai unsur akan dikerahkan untuk mengamankan pelaksanaan pemungutan suara kepala daerah di Sumut. Rinciannya, 13.170 personel polisi dan 1.900 anggota TNI.

Selain itu, ada tambahan bantuan dari pemerintah daerah. Pasukan pengamanan bagungan ini akan disebar ke seluruh wilayah Sumut.

“Dari 19000 lebih anggota yang kami punya, kami gunakan 13170 kalau tak salah, [personel] TNI 1900. Kami gunakan memang status TNI on call,” ujar Paulus usai Apel Patroli Persiapan Pilkada Serentak 2018 di Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara, Selasa (26/6) malam.

Paulus mengatakan pihaknya juga mengerahkan pasukan penembak jitu atau sniper di beberapa titik. Ia berharap, pelaksanaan pencoblosan hari ini berjalan lancar, aman dan tertib tanpa ada gangguan kemanan.

“Ada [pengerahan sniper], itu protapnya ada. Tapi kalau Pilkada ini kita kedepankan humanisme. Kita juga tempatkan itu. Itu alasan kenapa ada anggota Brimob di setiap TPS, tujuannya untuk mencegah adanya aksi teror,” ujarnya.

Proses penyelenggaraan Pilkada Serentak 2018 di 171 daerah ini hanya akan berlangsung satu putaran. Aturan itu telah tercantum dalam dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.

Kondisi ini berbeda dari Pilkada Provinsi DKI Jakarta tahun lalu yang memungkinkan putaran kedua bila suara calon kepala daerah tidak mencapai di atas 50 persen.

Pada Pilkada serentak hari ini tidak akan ada putaran kedua karena pemenangnya berdasarkan suara terbanyak satu tahap. (gil)

Sumber : CNN

LEAVE A REPLY