Pelarangan Ekspor Benih Lobster Dinilai Menguntungkan Mafia

0
34

Pertama.id-Komunitas Anti Penyelundup Baby Lobster menggelar aksi damai di depan gedung Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Mereka menilai bahwa pelarangan ekspor baby lobster atau benur mengakibatkan kerugian negara. Koordinator massa aksi Firman mengatakan, akibat kebijakan pelarangan ekspor benur justru menyuburkan praktik mafia.

“Selama ini banyak baby lobster yang diselundupkan oleh para mafia di bawah kendali tycon,” kata Firman, Senin (13/7).

Firman menambahkan, kebijakan tersebut sangat merugikan nelayan karena harga beli benur diatur dan dikendalikan sepenuhnya oleh mafia dengan alasan biaya ‘suap’ kepada oknum kemitraan KKP.

“Saat ini izin ekspor baby lobster telah dibuka oleh menteri KKP lewat Permen 12/2020, tentu saja ini membawa angin segar bagi nelayan dan sebagai sumber pendapatan negara,” ujarnya.

Firman mengungkapkan, dampak pelarangan ekspor benur itu penjualan di pasar gelap harganya bisa 100 kali lipat nilainya. Ia memberi contoh, Vietnam adalah negara yang paling banyak membutuhkan lobster, sekitar 80 persen kebutuhan negera itu dipasok oleh Indonesia.

“Celakanya, 80 persen itu tidak langsung dari Indonesia, tetapi lewat Singapura, hal itu membuat pihak perantara memperoleh untung paling besar.

Pasalnya, benih lobster dari Indonesia hanya dijual seharga Rp 3-5 ribu per benih. Ketika dijual kembali, harganya bisa mencapai Rp 139 ribu per benih. Selisih harga itulah yang dinikmati oleh perantara atau mafia,” urai Firman.

Penyelundupan benur dari hasil Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan, aliran dana yang diduga sebagai transaksi penyelundupan lobster bisa mencapi Rp 300-900 miliar setiap tahun.

“Dana tersebut dialirkan dari bandar di luar negeri melalui tycon kepada para pengepul di Indonesia untuk membeli benih lobster,” pungkasnya.(JPNN/Red)

LEAVE A REPLY