Pak Buwas, Mengapa ke Markas TNI dan Polri?

0
119

Pertama.id- Dirut Bulog Budi Waseso melepas 17 truk berisi bahan pokok untuk didistribusikan ke beberapa titik di sekitar Jabodetabek, Rabu (6/6).

Truk-truk tersebut berisi beras, gula, tepung terigu, minyak goreng, daging kerbau, dan daging ayam. Masing-masing akan diantarkan ke markas Polda, Polres, Kodim, dan Korem di 17 titik. Sepuluh titik di markas kepolisian dan 7 titik di markas TNI.

Buwas menyebutkan, itu sebagai upaya stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan. Pangan yang diangkut dalam truk-truk tersebut dijual dengan harga lebih murah. Contohnya beras medium dijual dengan harga Rp 8.950 per kilogram. Sedangkan harga di pasaran bisa Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kilogram.

Buwas mengatakan, masyarakat sudah bisa langsung datang ke markas-markas Polda, Polres, Kodim, dan Korem terdekat untuk membeli sembako murah.

“Tapi kalo mau tetap ke pasar ya tidak masalah,” katanya. Markas-markas TNI-Polri tersebut akan terus disuplai secara kontinyu oleh Bulog. Tidak hanya ketika Ramadan atau Lebaran.

Jika ada permintaan dan masyrakat membutuhkan, Bulog akan segera mengucurkan. ”Kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Tidak hanya Jabodetabek. Tapi fokusnya di Jawa karena perayaan Lebaran lebih banyak di Jawa,” katanya.

Mengapa markas TNI dan Polri? “Ya karena kalau kantor-kantor lain kan tutup. Kalau TNI-Polri tidak pernah tutup,” kata Buwas. Meskipun murah, Buwas menjamin sembako yang dimuat dalam truk-truk tersebut berkualitas baik.

Daging kerbau impor yang didistribusikan sudah melalui persyaratan yang ketat dan jaminan halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “MUI sendiri sudah melihat tempat pemotongan dan pembuatan kemasan daging ini,” jelasnya.

Daging kerbau impor itu juga akan secara terus menerus disuplai sesuai dengan kebutuhan. Bulog sendiri, kata Buwas, memiliki stok tidak kurang dari 32 ribu ton daging kerbau. Untuk beras, sejauh ini juga masih aman.

Bulog memiliki total 1,2 juta ton beras cadangan. Sekitar 984 ribu ton di antaranya didapatkan dari penyerapan beras lokal dari petani. Sisanya adalah stok lama yang dimiliki Bulog.

“Tapi stok yang lama nanti akan kita disposal (buang) kalau kualitasnya sudah menurun,” jelasnya. Untuk impor beras 500 ribu ton, Buwas mengatakan saat ini Bulog belum menerimanya. Karena stok di dalam negeri masih mencukupi.

Beras impor tersebut masih berada di luar negeri. Akan didatangkan berdasarkan penugasan dari pemerintah, juga kebutuhan pasar. “Kalau stok menipis, baru kita datangkan. Butuh 100 ribu ton, ya kita datangkan 100 ribu ton,” katanya.

Sehingga, para petani maupun produsen beras tidak perlu menghawatirkan beras impor tersebut. Buwas menjamin, selama tidak dibutuhkan, beras-beras itu masih akan menjadi cadangan pemerintah. Tidak akan beredar di pasaran.

Buwas menambahkan, beras sachet juga segera beredar di pasaran. Dia telah memerintahkan setiap Divisi Regional (Divre) dan Sub-Divre untuk mulai memproduksi beras sachet tersebut. Nanti beras sachet akan beredar di pasar, ritel, dan warung-warung.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahja Widayanti mengatakan bahwa tidak benar ada gejolak dan kenaikan harga. Sejak Maret pihaknya telah melakukan pemantauan. “Suplai bahan pokok masih aman terkendali, tidak ada alasan bagi para pedagang untuk menaikkan harga,” katanya.

Kemendag mendukung penuh stabilisi harga yang dilakukan Bulog. Menurutnya, itu mempermudah masyarakat umum dapet barang kualitas baik dengan harga terjangkau.(tau/oki)

LEAVE A REPLY