Nyaris Rp15 Ribu, Gejolak Rupiah Dinilai Masih Batas Wajar

0
74

Pertama.id-Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mendekati Rp15 ribu, dinilai masih dalam batas kewajaran.

“Masalah rupiah menjadi tanggung jawab negera dan seluruh rakyat. Hanya para pengkhianat yang bernafsu ekonomi nasional hancur. Sampai sejauh ini, gejolak rupiah masih dalam batas kewajaran, badai pasti berlalu,” kata aktivis dari Progres 98 Faizal Assegaf, Rabu (4/9).

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik ketimbang saat krisis pada 1998.

Saat krisis 1998, hampir seluruh indikator ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang tidak baik. Contohnya, pertumbuhan ekonomi yang minus dan inflasi yang melambung tinggi.

Pertumbuhan pada 1998 minus 13,1 persen. Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.650 per dolar padahal IHSG pada saat itu hanya 256. Pada 2018, ekonomi terus tumbuh menjadi 5.7 persen.

Saat 1998 cadangan devisa Indonesia hanya USD 17,4 miliar dollar dan kredit bermasalah atau Nonperforming Loan (NPL) luar biasa tinggi hingga 30 persen.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku heran dengan sejumlah pihak yang membandingkan kondisi pelemahan rupiah saat ini dengan krisis ekonomi pada 1998.

Meski nilai tukar rupiah sama-sama tembus Rp 14.800 per dollar Amerika Serikat, namun Darmin menegaskan bahwa kondisinya jauh berbeda.

“Jangan dibandingkan Rp 14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu,” kata Darmin usai rapat membahas pelemahan rupiah yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9).

Darmin memastikan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Berbagai kebijakan yang selama ini diambil tetap akan dipertahankan. Hanya saja, pemerintah akan melakukan perbaikan di beberapa sektor, salah satunya transaksi berjalan yang kini mengalami defisit.

“Kelemahan kita hanya transaksi berjalan yang defisit 3%. Lebih kecil dari 2014, 4,2 persen. Masih lebih kecil dari Brasil, Turki, Argentina. Tolong membacanya, membandingkannya yang fair,” tambah dia.

Sementara, Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed menilai, pelemahan nilai tukar rupiah ini bukan karena faktor dari dalam negeri, tetapi lebih karena faktor eksternal.

“Aksi jual lira Turki dan peso Argentina sangat berperan pada depresiasi drastis rupiah,” jelas dia.

Saat ini memang Turki dan Argentina tengah masih dalam fase ketidakpastian ekonomi. Hal tersebut membuat investor melepas aset-aset beresiko seperti mata uang di negara berkembang termasuk rupiah.

Namun memang, pelemahan rupiah tidak terlalu besar karena kondisi ekonomi makro cukup stabil. Bahkan BI sebelummnya telah melakukan aksi antisipasi dengan menaikkan suku bunga acuan selama beberapa kali.(chi/jpnn)

LEAVE A REPLY