NU Berperan Mengawal NKRI dan Islam Antiradikalisme

0
89

Pertama.id-Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa NU selalu berperan dan memberikan andil besar dalam mengawal keutuhan NKRI, menjaga kekuatan eksistensi budaya Islam Nusantara, Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, yang ramah, santun, antiradikalisme, antiekstremisme.

Hal tersebut Kiai Said pada acara pembukaan Konsolidasi Jelang Satu Abad NU di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Dengan segala suka dukanya, menurut Kiai Said, NU menjaga amanat untuk senantiasa mengatakan kebenaran dan menolak kebatilan. Hal itu sudah dicontohkan langsung oleh pendiri NU sendiri, yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ia enggan melakukan sujud ke arah timur ketika dipaksa oleh Jepang. Ia bahkan rela dipenjara selama satu bulan di Mojokerto. Keluar dari situ, tangan kanannya tak bisa digerakkan.

Tak hanya Kiai Hasyim, KH Mahfudz Siddiq, KH Zainal Mustofa, KH Ilyas Lumajang bahkan mendapat siksaan lebih berat dari negeri matahari terbit itu.

“Oleh karena itu, kita sekarang sebagai pewaris beliau harus menjaga amanah itu,” tegas Kiai Said.

KH Abdurrahman Wahid juga mencontohkan hal yang sama. Ia berani mengatakan kebenaran dan menolak kebatilan. Kalau mau kaya, kata Kiai Said, Gus Dur tinggal bilang ‘iya’ saja kepada Orde Baru. Tapi hal itu tidak dilakukan olehnya.

“Demi mempertahankan amanah supaya tidak masuk pada dhaluman jahula (kezaliman) tetap menjaga amanah itu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Di samping itu, Kiai Said juga menegaskan bahwa Indonesia bersyukur memiliki struktur sosial yang jelas dengan adanya organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, da sebagainya. Hal ini, katanya, tidak ada di negara Timur Tengah.

Dalam menyongsong satu abad usia NU, Kiai Said menegaskan bahwa jamiyyah ini harus mampu menghadapi tantangan, termasuk dunia yang bakal memasuki Revolusi Industri 5.0 ini, dunia dengan kekosongan sosial. Alhamdulillah NU punya prinsip hubbul Wathan minal iman (nasionalisme bagian dari iman). Jika tidak memiliki hal itu, bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya, bahkan mengarah pada sekular dan liar.

“Semua itu dalam rangka memposisikan NU sebagai syuhada alannas (kelompok masyarakat yang siap bermanfaat bagi manusia),” tegas Kiai Said.

Oleh karena itu, Kiai Said menegaskan kembali bahwa NU harus percaya diri menghadapi revolusi industri global itu, tidak boleh minder. Sebab, lanjutnya, tantangan ke depan akan lebih berat lagi.

Kiai asal Cirebon itu juga menyampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019 mendatang, NU akan menggelar Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar di Pondok Pesantren Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat.

Kegiatan yang bakal dihadiri oleh 10.000 kiai ini akan memperkuat keputusan Muktamar Banjarmasin, yakni Indonesia sebagai darussalam (negara perdamaian), bukan darul Islam (negara Islam). Bahasan lainnya adalah monopoli perdagangan. Kiai Said meminta agar pemerintah harus berpihak kepada rakyat kecil. Sampah plastik juga akan dibahas pada kegiatan tersebut mengingat sudah menjadi ancaman kehidupan. Bahasan lainnya dalam Munas Konbes adalah memperkuat definisi Islam Nusantara secara akademis.

Kiai Said menegaskan bahwa keputusan Mjnas Konbes bukan fatwa. Hal itu hanya sebagai jawaban NU terhadap problem yang ada.

Konsolidasi ini dihadiri oleh Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah NU dan Pengurus Cabang NU se-Indonesia. Selain itu, hadir pula para kiai sepuh dan seluruh jajaran PBNU, serta badan otonom dan lembaga NU.(jpnn)

LEAVE A REPLY