Menlu: Pola Benny Wenda Manipulatif dan Fake News

0
26

Pertama.id-Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaku sudah memahami pola yang dilakukan petinggi separatis Papua Barat, Benny Wenda, yang diselundupkan Vanuatu dan menyerahkan petisi berisi tuntutan referendum kemerdekaan kepada Komisi Tinggi HAM PBB di Jenewa, Swiss.

“Jadi, pattern (pola) yang dilakukan oleh Benny Wenda itu selalu: satu, manipulatif dan yang kedua, adalah fake news,” jelas Retno kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Retno menjelaskan, wakil tetap RI di Jenewa, pada 30 Januari 2019 sudah melakukan pembicaraan langsung dengan KT HAM PBB. Menurut Retno, berdasar pembicaraan tersebut, KT HAM PBB merasa surprise dengan adanya anggota delegasi yang bukan delegasi resmi perwakilan Vanuatu saat pertemuan.

Retno menambahkan, KTT HAM juga menyatakan bahwa setiap pertemuan harus didasari good intention atau niat baik.

“Jadi, dia beranggapan semua negara memiliki good intention, tapi kenyataannya bahwa Vanuatu tidak memiliki good intention dengan memasukkan Benny ke dalam (delegasi), dan juga komplain KT HAM karena di akhir pertemuan tiba-tiba yang bersangkutan berbicara mengenai Papua,” kata Retno kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Mantan duta besar RI untuk Kerajaan Belanda, itu menegaskan tidak kaget dengan apa yang dilakuan Benny Wanda.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaku sudah memahami pola yang dilakukan petinggi separatis Papua Barat, Benny Wenda, yang diselundupkan Vanuatu dan menyerahkan petisi berisi tuntutan referendum kemerdekaan kepada Komisi Tinggi HAM PBB di Jenewa, Swiss.

“Jadi, pattern (pola) yang dilakukan oleh Benny Wenda itu selalu: satu, manipulatif dan yang kedua, adalah fake news,” jelas Retno kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Retno menjelaskan, wakil tetap RI di Jenewa, pada 30 Januari 2019 sudah melakukan pembicaraan langsung dengan KT HAM PBB. Menurut Retno, berdasar pembicaraan tersebut, KT HAM PBB merasa surprise dengan adanya anggota delegasi yang bukan delegasi resmi perwakilan Vanuatu saat pertemuan.

Retno menambahkan, KTT HAM juga menyatakan bahwa setiap pertemuan harus didasari good intention atau niat baik.

“Jadi, dia beranggapan semua negara memiliki good intention, tapi kenyataannya bahwa Vanuatu tidak memiliki good intention dengan memasukkan Benny ke dalam (delegasi), dan juga komplain KT HAM karena di akhir pertemuan tiba-tiba yang bersangkutan berbicara mengenai Papua,” kata Retno kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).

Mantan duta besar RI untuk Kerajaan Belanda, itu menegaskan tidak kaget dengan apa yang dilakuan Benny Wanda.

Retno menegaskan bahwa Indonesia tidak akan pernah mundur bila sudah menyangkut sovereignity, kedaulatan, dan integritas wilayah Indonesia. Dia menambahkan, Komisi I DPR juga sudah memberikan dukungan kepada pemerintah dalam pertemuan tadi.

“Komisi I DPR memberikan dukungan yang sangat baik bagi pemerintah untuk terus melakukan upaya upaya dalam konteks mengenai maslaha sovereignity dan teritorial,” jelasnya.

Menurut Retno, dalam hubungan diplomatik rasa saling menghormati itu harus dijunjung tinggi. Yang perlu diingat, kata Retno, salah satu prinsip yang harus dihormati semua adalah menghormati kedaulatan negara lain.

“Kami sedang mempelajari segala kemungkinan, tapi kami sudah melayangkan nota protes keras pada Vanuatu,” pungkas Retno.(boy/jpnn)

LEAVE A REPLY