Kurangi Ketergantungan Gandum, Tingkatkan Pangan Mandiri

0
75

Pertama.id-Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kegiatan Pangan Lokal Fiesta di Kampus Pertanian Cimanggu, Bogor pada Rabu (7/11).

Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir, mewakili Mentan Andi Amran Sulaiman.

Dalam kegiatan itu, juga digelar promosi makan mi nusantara dengan 1.000 siswa, yang mana bahan baku mi bukan dari gandum.

Menurut Syakir, sengaja mereka menggelar kegiatan itu untuk meningkatkan inovasi teknologi dalam pengembangan pangan lokal.

Hal itu bertujuan juga untuk menghentikan ketergantungan masyarakat terhadap gandum, yang bahan bakunya tidak diproduksi di Indonesia.

“Inovasi teknologi yang sudah dikembangkan untuk mengangkat pangan lokal dapat dikenal lebih luas, serta membuka pintu gerbang komersialisasi produk pangan lokal untuk dapat segera dihilirisasi oleh pihak swasta dan daerah potensial,” kata Syakir, Rabu (7/11).

Dia kemudian memaparkan, berdasar data statistik menunjukkan kenaikan konsumsi terigu dalam 10 tahun terakhir. Pada 2008 diketahui kebutuhan 15,5 kilogram/kapita/tahun. Lalu pada 2018 menjadi 25 kilogram/kapita/tahun.

“Tanpa inovasi mengembangkan pangan lokal untuk mengganti terigu, tentu akan membuat beban devisa negara semakin meningkat karena bahan bakunya harus impor. Pengembangan agroindustri dengan bahan baku pangan lokal menjadi ujung tombak peningkatan nilai tambah proses dan produk,” terang Syakir.

Syakir menerangkan, potensi pengembangan pangan lokal masih sangat luas jika menilik ragam komoditas yang ada di Indonesia.

Apalagi, Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia dalam keragaman hayati.

“Hutan sagu Indonesia merupakan yang terbesar di dunia mencapai 5,5 juta hektare atau mendekati 85 persen populasi sagu dunia. Begitu juga, tanaman sorgum sangat hemat air dan bisa tumbuh dengan baik, terutama di daerah kering berbatu seperti di NTT. Sayangnya potensi ini belum dikembangkan dengan baik,” jelas Syakir.

Lalu ada potensi ubi kayu, jagung, hanjeli, garut, ganyong, talas, dan sukun yang dulunya pernah menjadi sumber pangan di sebagian masyarakat Indonesia, namun kini terpinggirkan oleh konsumsi beras dan terigu yang semakin meningkat.

Kampanye cinta pangan lokal, menurut Syakir tidak bisa lagi dengan cara konvensional, tapi harus dengan terobosan teknologi dan pengembangan agroindustri pangan lokal mulai dari hulu hingga hilir.

“Perlu sinergi semua pihak untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pangan lokal sehingga optimal dan layak dikembangkan secara lebih luas,” tandas Syakir. (cuy/jpnn)

LEAVE A REPLY