Jokowi Minta Pemilik Media Perhatikan Kesejahteraan Wartawan

0
88

Pertama.id-Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa media memiliki peran penting dalam membangun demokrasi, membangun check and balances, dan memperkuat partisipasi warga.

Karena itu, kebebasan pers akan memunculkan pemerintahan yang responsif, transparan, dan akuntabel.

Hal ini disampaikannya saat membuka Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di The Sunan Hotel, Surakarta, Jumat (28/9). Saat itu, presiden menilai kritik yang disuarakan media dalam demokrasi adalah sesuatu yang wajar. Karena dengan kritiklah pemerintah akan bisa memperbaiki dan membenahi kekurangan yang ada.

“Tapi perlu saya tegaskan bahwa kritik berbeda dengan fitnah, kritik berbeda dengan provokasi. Kritik juga bukan mencari-cari kesalahan. Kritik juga berbeda dengan nyinyir,” katanya di depan peserta Kongres PWI.

Mengingat peran penting media pada perkembangan demokrasi di Indonesia, maka Presiden ketujuh RI itu memandang kebebasan pers menjadi hal yang utama yang perlu dijaga dan menjadi semangat reformasi.

Media harus dilindungi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, karena sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi seluruh rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman kekerasan, termasuk juga para wartawan.

“Karena itu jangan ada yang menghalangi media dalam menjalankan kerja jurnalismenya. Jangan ada yang melakukan kekerasan kepada wartawan yang tengah menjalankan profesinya,” tegasnya.

Para kesempatan itu, suami Iriana secara khusus berharap kepada para pemilik media agar memperhatikan betul kesejahteraan wartawan. Hal ini penting karena profesi manapun ketika meningkat profesionalitasnya, maka semestinya meningkat juga kesejahteraannya.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa media memiliki peran penting dalam membangun demokrasi, membangun check and balances, dan memperkuat partisipasi warga.

Karena itu, kebebasan pers akan memunculkan pemerintahan yang responsif, transparan, dan akuntabel.

Hal ini disampaikannya saat membuka Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di The Sunan Hotel, Surakarta, Jumat (28/9). Saat itu, presiden menilai kritik yang disuarakan media dalam demokrasi adalah sesuatu yang wajar. Karena dengan kritiklah pemerintah akan bisa memperbaiki dan membenahi kekurangan yang ada.

“Tapi perlu saya tegaskan bahwa kritik berbeda dengan fitnah, kritik berbeda dengan provokasi. Kritik juga bukan mencari-cari kesalahan. Kritik juga berbeda dengan nyinyir,” katanya di depan peserta Kongres PWI.

Mengingat peran penting media pada perkembangan demokrasi di Indonesia, maka Presiden ketujuh RI itu memandang kebebasan pers menjadi hal yang utama yang perlu dijaga dan menjadi semangat reformasi.

Media harus dilindungi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, karena sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi seluruh rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman kekerasan, termasuk juga para wartawan.

“Karena itu jangan ada yang menghalangi media dalam menjalankan kerja jurnalismenya. Jangan ada yang melakukan kekerasan kepada wartawan yang tengah menjalankan profesinya,” tegasnya.

Pada kesempatan itu Jokowi juga mengajak para wartawan untuk bersama-sama membangun demokrasi di Indonesia menjadi lebih berkualitas, lebih sehat, dan lebih kuat. Termasuk menjaga agar rakyat tidak terpecah belah hanya karena beda pilihan politik.

“Ingat bahwa pilihan kebangsaan kita hanya satu, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ingat bahwa persatuan adalah aset bangsa yang harus kita jaga, rawat, pelihara, dan kita pertahankan,” pintanya. (fat/jpnn)

LEAVE A REPLY