Jokowi: Hidup Sutopo Didedikasikan untuk Orang Banyak

0
22

Pertama.id-Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di Guangzhou, Tiongkok, Minggu (7/7) dini hari.

Sutopo meninggal dunia karena menderita kanker paru-paru. Jokowi merasa kehilangan sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk orang banyak. Orang nomor satu di Indonesia ini lantas mengutip sebuah pernyataan bijaksana Sutopo tentang kehidupan.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita kehilangan seorang yang hidupnya didedikasikan untuk orang banyak. Sebagaimana yang pernah ia sampaikan: “Hidup itu bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain.” Selamat jalan Pak @Sutopo_PN,” kata Jokowi dalam akun Twitter resminya, @jokowi sebagaimana dilihat JPNN.com, Minggu (7/7).

Mengiringi cuitannya, Jokowi pun mem-posting fotonya bersama Sutopo di momen-momen wawancara dengan sejumlah wartawan.

Inspirator Terbaik 2018 untuk Penyintas Kanker Paru

Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sebelumnya pernah memberikan penghargaan kepada Sutopo Nugroho sebagai Inspirator Terbaik 2018 bagi masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan, yakni bagi para penyintas penderita kanker dalam melawan penyakitnya, khususnya bagi penyintas/penyandang kanker paru.

Penghargaan diberikan Ketua Umum PDPI DR Dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR dalam seminar sehari tentang Kewaspadaan dan Deteksi Kanker Paru pada Layanan Primer, di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Minggu (16/12/2018) lalu.

Agus mengatakan, apa yang dilakukan Sutopo telah banyak menginspirasi penyintas kanker di Indonesia, khusus kanker paru. “Tidak menyerah begitu saja namun tetap survive,” kata Agus dalam siaran pers yang disebarkan Sutopo, Senin (17/12).

Sementara Sutopo kala itu mengatakan bahwa 2018 adalah tahun bencana bagi bangsa Indonesia. Karena, korban meninggal dan hilang akibat bencana selama tahun ini adalah terbanyak sejak 2007 hingga 2018.  “Gempa beruntun di NTB, dan gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan hilang,” kataSutopo.

Namun, 2018 adalah tahun bencana bagi Sutopo karena pada Januari tahun itu divonis dokter menderita kanker paru stadium 4B yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis sakit. Di tengah perjuangan hidupnya, Sutopo masih secara terus-menerus menyampaikan informasi bencana kepada media dan masyarakat.

Tetap berjibaku melawan sakitnya untuk menyampaikan informasi bencana secara terus menerus. Faktanya media dan publik membutuhkan penjelasan yang lengkap dan terperinci mengenai bencana dengan bahasa yang gampang, gamblang, mudah dimengerti dan masyarakat merasa aman dengan penjelasannya. “Meski sakit tetap bekerja sehari-hari,” tegasnya.

Sutopo juga tetap giat berbagi pengalaman dan menyarankan kepada penyintas kanker paru untuk terus semangat, pantang menyerah dan hidup sehat. Melalui media sosial, Sutopo sering mengunggah foto dan video kondisi tubuhnya untuk memberikan semangat penyintas kanker.

“Juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum mengenali tanda-tanda kanker paru, serta menghindari hal-hal penyebab kanker,”  kata Sutopo.

Dia mengaku  tidak merokok, pola makan sehat banyak mengonsumsi sayur dan buah, rajin berolahraga. Tidak ada keturunan langsung yang menderita kanker.

Namun mengapa terkena kanker paru stadium 4B?  Sebagian besar pasien yang divonis kanker, apalagi sudah masuk stadium 4, yang sulit disembuhkan sesuai  statistik medis tentu akan syok. Apalagi jika dokter mengatakan usia tinggal beberapa bulan atau tahun. Tentu akan sakit secara fisik dan psikis. “Meski urusan hidup mati itu hak Allah,” ungkap Sutopo. (boy/jpnn)

LEAVE A REPLY