Gaya Hidup Pendeta, Uang, dan Bisnis di Gereja Raksasa

0
297

Pertama.id-Sebulan lalu muncul petisi daring menuntut keuangan gereja-gereja besar di Indonesia diaudit. Pembuatnya adalah Hanzel Samuel, pelajar kelas 2 SMA. Ia menuding gereja tempatnya dulu beribadah mendapatkan persembahan dan perpuluhan tapi bukan digunakan untuk membangun gereja melainkan masuk kantong pribadi sang pendeta.

“Buat beli mobil. Buat kekayaan dialah, pokoknya,” katanya kepada saya.
Hanzel berhitung kasar: bila dalam satu minggu seorang jemaat memberikan perpuluhan Rp100 ribu, sementara ada 1.000 jemaat yang memberi perpuluhan, minimal terkumpul Rp100 juta. Tapi, pembangunan enggak ada, perbaikan sarana gereja enggak ada, tudingnya.
“Itu yang saya khawatirkan.” Ia menuntut simpel: transparansi penggunaan dana gereja.
“Kalau pemasukan siapa yang kasih itu ada, tapi digunakan untuk apa saja enggak ada.” Petisi itu menuai dukungan lebih dari 1.500 orang. Cerita Hanzel bukan barang baru. Bergunjing soal korupsi di gereja kadang jadi obrolan jemaat tapi nyaris bukan isu publik lantaran dianggap menyentuh kesakralan agama.
Memang sempat ada argumen mendesak perlu audit keuangan gereja yang dilontarkan oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata pada 2017. Sayangnya, dorongan ini cuma angin lalu. Tantangannya sulit mengingat sistem hukum di Indonesia tidak mengenal audit dari pemerintah terhadap lembaga keagamaan.
“Salah satu persoalan yang kami hadapi bisa saja gereja itu jadi tempat money laundering—pencucian uang,” ujar Jeirry Sumampow, saat itu Kepala Humas Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, pada 1 November 2017.
Dosa dan Bisnis Kotor Petinggi Gereja Kerawanan gereja menjadi tempat pencucian uang mengkhawatirkan lantaran di beberapa gereja raksasa, pendeta bisa terlibat melakukan bisnis; sebuah pintu lebar bagi kemungkinan korupsi dan pencucian uang. Salah satu contoh kasus publik adalah Billy Sindoro, gembala sidang Gereja Christ Catedral (bagian dari Gereja Bethel Indonesia Basilea) dicokok KPK dalam kasus suap izin Meikarta pada 2018.
Meikarta adalah usaha dari Lippo Grup tempat Billy menjadi salah satu bosnya. Suap semacam ini bukan pertama kali dilakukan oleh Billy. Pada 2008, ia pernah ditangkap KPK karena menyuap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam kasus hak siar Barclays Premier League. Meski sudah divonis penjara pada Maret lalu, laman Christ Cathedral masih menampilkan Billy Sindoro sebagai co-lead pastor yang tidak menerima upah dari gereja.

Soal kasus-kasus korupsi yang menyangkut petinggi gereja, Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia Junifrius Gultom mengatakan memang ada kelemahan dalam ajaran gereja, khususnya pada Pentakosta Karismatik, yang hanya menekankan personal sin seperti seks bebas, judi, mabuk dan sebagainya. Namun, sering lupa dimensi social sin yang menyangkut relasi sosial.
“Jarang sekali bicara soal ketamakan. Jarang soal penebangan hutan, misalnya. Karena jarang dimuridkan dengan kurikulum yang integrated dan holistik sehingga mereka mengatakan Tuhan itu urusan di gereja. Kalau saya di gereja, Tuhan nothing to do with my business. Itu, kan, keliru,” ujar Gultom. Karena itu tak jarang banyak orang saleh di gereja, tapi dalam perilaku bisnis jauh dari nilai-nilai Kekristenan, menurut Gultom.
Respons Satir Jemaat Namun, kondisi gereja macam itu bukannya minim kritisisme. Era media sosial melahirkan akun-akun satire dan gosip yang menarik puluhan ribu pengikut, termasuk untuk merespons naiknya tingkat kesalehan kelas menengah Indonesia berbanding lurus dengan tingkat keglamoran para pemimpin agamanya.
Misalnya akun Instagram @gerejapalsu yang turut mengampanyekan petisi audit gereja-gereja raksasa dan kerap menyindir praktik para pendeta memperkaya diri dengan tudingan didapatkan dari uang jemaat. Ada pula akun @jemaat_gerejapalsu yang melayangkan kritik serupa terhadap kehidupan bergereja. Orang di belakang admin akun tersebut berkata ia membuat sindiran dan sarkasme dengan persona anonim lantaran tidak ada mekanisme whistle blower alias ‘peniup peluit’ di gereja.
“Karena gereja tidak mengakui whistle blower. Jemaat yang kritis tanpa tedeng aling-aling akan dianggap sesat dan dikeluarkan dari gereja,” katanya.
Ada juga akun @pastorinstyle yang menyoroti penampilan glamor para pastor mega church. Ia menampilkan foto pastor lalu iseng-iseng melacak pakaian serta aksesori yang digunakan para pastor itu. Beberapa yang mengejutkan misalnya ada pastor yang memakai jam tangan seharga lebih dari Rp1 miliar. Beberapa pastor perempuan dan istri pastor mengenakan aksesori dari merek mahal seperti tas Hermes seharga ratusan juta.
Unggahan mereka direspons balik dari sejumlah pendeta. Salah satunya Pastor Raditya Oloan, yang dalam kolom komentarnya menulis akun-akun satire ini hanya melihat keburukan orang lain. “[…] bukan jadi martir, malah jadi satir… Gue yakin banget [apa yang dilihat] orang-orang satire ini mungkin bener … tapi cuma [lihat] kesalahan,” katanya.

“Maka, mereka membayar upah secara tidak manusiawi, lalu menghalalkan segala cara mengurus izin dengan menyuap. Suap itu mereka pikir tidak ada urusannya dengan Tuhan,” katanya.

Sementara Pendeta Yohanes Nahuway dari GBI Mawar Saron berkata apa yang ditampilkan oleh akun satire itu mengabaikan konteks. Menurutnya, sering kali para pendeta mendapatkan hadiah dari jemaat berupa barang mewah, bukan dibeli sendiri oleh pendeta.
“Kadang kita sulit menolak kalau ada jemaat yang mau berterima kasih dengan cara memberikan barang. Saya pernah khotbah di Amerika kemudian diberi uang Rp30 juta. Saya belikan iPad Pro. Nanti ada yang bilang, ‘Pendeta gaya amat beli iPad mahal.’ Padahal bukan uang kita,” katanya.
Junifrius Gultom juga berpendapat ada banyak pendeta memang sudah tajir sebelum berkiprah di gereja. “Ada orang tidak tahu bahwa di Karismatik, kalangan profesional bisa ditahbiskan menjadi pendeta. Jadi banyak teman-teman saya menjadi pendeta sudah kaya sebelumnya. Gaya hidupnya sudah begitu,” ujarnya.(Tirto.id)

LEAVE A REPLY