Fahri: Masa Jokowi Berantem Sama Prabowo?

0
38

Pertama.id-Dua kali debat Pilpres 2019 menuai kritikan dan belum memuaskan. Persoalan pemberian kisi pertanyaan dan minimnya sesi tarung bebas untuk kandidat calon presiden dan wakil presiden, dianggap mereduksi kebebasan peserta debat menyampaikan gagasan serta pemikirannya.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan jangan lagi ada reduksi terhadap kandidat untuk menyampaikan gagasan-gagasannya dalam debat. Mantan wakil sekretaris jenderal Partai Keadilan Sejahtera itu menegaskan, sebaiknya dalam debat diberikan lebih banyak sesi tarung bebas untuk para kandidat.

“Kalau kemarin tarung bebas satu sesi, mudah-mudahan di debat berikutnya ditambah menjadi dua, dan tiga. Bahkan, di debat kelima nanti tidak perlu ada pertanyaan lagi. Beri saja kisi-kisinya biar mereka bertepmpur,” katanya dalam diskusi Menakar Efektivitas Debat Capres daam Meraih Suara di gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/3).

Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu yakin jika para kandidat dibiarkan bertarung bebas mengeluarkan gagasan dan pemikirannya di dalam debat tersebut, tidak akan menimbulkan kerusuhan.

“Tidaklah, masa Pak Jokowi akan berantem dengan Pak Prabowo, ganas seakan-akan menyebabkan perusuhan. Ini orang-orang yang kami pilih juga jago-jago lah, tidak mungkinlah,” ungkap Fahri dalam diskusi yang dipandu Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen Romdony Setiawan, itu.

Menurut dia lagi, Indonesia bangsa yang  sudah dewasa sehingga tidak mungkin gara-gara berdebat terjadi saling serang sampai rusuh.

“Itu kadang-kadang kita suka begitu juga menganggap salah nanti orang berkelahi, kepal tangan kemudian saling serang, ya tidaklah,” ungkap Fahri.

Mantan aktivis mahasiswa itu mengatakan, kalau rakyat dibiasakan berbicara maka tawuran berkurang. Sebaliknya, kata dia, kalau mengurangi orang berbicara maka  tawuran merajalela.

“Jadi, tidak mungkin saya kira (rusuh). Jadi, jangan khawatir bos,” ungkap Fahri.

Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Eriko Sutarduga juga yakin bahwa tidak akan terjadi hal-hal di luar yang diharapkan masyarakat terkait debat yang terjadi antara pasangan capres dan cawapres.  Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi – KH Ma’ruf Amin, itu mengatakan kualitas kandidat sudah baik sehingga tidak mungkin akan sampai rusuh.

“Kalau beliau-beliau (kandidat) tidak seperti itu, kualitasnya sudah jauh, sudah di atas,” kata Eriko dalam kesempatan yang sama.

Eriko menjelaskan, debat pilpres sudah dimulai sejak 2004. Dia mengakui memang ada peningkatan dari penyelenggaran debat dalam setiap pilpres hingga 2019 ini.

Hanya saja, Eriko mengungkapkan bahwa berdasar survei, debat pertama Pilpres 2019 lalu hanya disaksikan 50,6 persen masyarakat.

Artinya, lanjut Eriko, masyarakat sudah cerdas dan memahami bahwa penyelenggaran dan substansi debat pertama kurang begitu menarik.

“Jadi, dengan 50,6 persen, masyarakat pahami substansi dan cara berdebat belum terlalu menarik. Debat kedua, sudah berbeda jauh lebih menarik dari debat pertama, tetapi apakah ini sudah seperti yang diinginkan masyarakat Indonesia saya harus jawab belum,” ungkap wasekjen PDI Perjuangan, itu.

Menurut Eriko, masih ada waktu bagi KPU untuk memperbaiki.

Peneliti CSIS Arya Fernandez mengatakan, masyarakat sebagai pemilih tentu berharap kandidat tim sukses harus memahami mereka punya concern yang sama terhadap kualitas debat.

“Kalau debat tidak mampu hadirkan suatu yang baru, orang jadi kecewa dan memengaruhi partisipasi pemilu,” ungkap Arya dalam kesempatan itu.

Seperti diketahui, debat ketiga Pilpres 2019 akan digelar Minggu 17 Maret 2019 mempertemuan cawapres KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno. Sedangkan debat keempat akan kembali mempertemukan capres Jokowi dan Prabowo. Debat kelima atau yang terakhir, akan mempertemukan pasangan calon nomor urut 01, Jokowi – KH Ma’ruf, dan nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. (boy/jpnn)

LEAVE A REPLY