Denny JA: Survei Litbang Kompas Berpolitik?

0
25

Pertama.id-Konsultan politik sekaligus pemilik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mempertanyakan hasil survei Litbang Kompas.

Dia mengatakan apakah hasil survei Litbang Kompas patut dipercaya. “Apakah Kompas bermain politik? Dengan redaksi yang berbeda begitu banyak yang bertanya hal yang sama soal publikasi survei Harian Kompas di hari itu,” ujar Denny JA seperti dikutip dari tulisannya yang tersebar di media sosial, Rabu (20/3).

Diketahui, survei Jokowi digambarkan menurun dari 52.6 persen (Okt 2018) ke 49.2 persen (Maret 2019). Prabowo dinyatakan menaik dari 32.7 persen (Okt 2018) menuju 37.4 persen (Maret 2019). Pesannya: Jokowi hati-hati! Belum aman!

Dia mengatakan, Kompas memang menyajikan pula simulasi yang ia sebut ekstrapolasi elektabilitas. Jika pemilih yang belum menentukan tidak dihitung, sebanyak 13.4 persen (terbagi proporsional), Jokowi masih unggul: 56,8 persen versus 43,2 persen.


Tulisan Denny JA di akun Facebook pribadinya.

Jika pilpres diselenggarakan di hari survei, sebenarnya Kompas juga mengabarkan Jokowi menang besar: doubel digit, dengan selisih 13,6 persen. Kemenangan Jokowi di 2019 lebih besar dibanding kemenangan Jokowi di Pilpres 2014, yang hanya sekitar 7 persen (mono digit).

Walau dikabarkan menang, kecemasan datang di kubu Jokowi. Kompas menggambarkan Jokowi belum di angka psikologis 50 persen (elektabilitas yang tidak diekstrapolasi). Jokowi juga digambarkan menurun trennya, hampir di semua kantong pemilih.

‘Walau dikabarkan kalah, harapan datang dari banyak kubu Prabowo. Tren Prabowo digambarkan menaik. Masih ada satu bulan lagi trend menaik itu terjadi untuk melampaui Jokowi,” tegasnya.

“Tapi apakah survei Litbang Kompas berpolitik? Saya tak punya info untuk memberikan respon yang bisa dipertanggung jawabkan,” ungkapnya.

Hanya satu yang bisa katakan kata Denny JA, spesialis lembaga survei seperti LSI Denny JA, SMRC, Indikator, Charta Politika, dalam survei di waktu yang tak terlalu berbeda, memiliki hasil survei yang berbeda.

‘Empat lembaga itu hasilnya mirip. Jokowi sekitar 52-58 persen. Prabowo sekitar 30-35 persen. Tapi biarlah aneka data berhamburan di ruang publik walau berbeda. Sebagaimana kita membiarkan seribu bunga berkembang,” tandasnya. (jpnn)

LEAVE A REPLY