Cak Imin Ajak Luruskan Sejarah Proklamasi Bangsa Indonesia

0
305

Pertama.id-Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk meluruskan sejarah soal proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Cak Imin mengatakan, selama ini banyak pihak bahkan panitia hari ulang tahun proklamasi di berbagai daerah pun masih menuliskan Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (HUT NKRI). Padahal, ujar Cak Imin, jika dikaji rumusan aslinya bukanlah kemerdekaan negara Indonesia.

“Tapi, kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus,” kata Cak Imin saat menjadi pembicara utama “Dialog Kebangsaan bertema 17 Agustus Bukan Kemerdekaan Republik Indonesia melainkan 17 Agustus Adalah Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan 18 Agutusus Adalah Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesai” di gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (12/7).

Dialog ini digelar MPR bekerja sama dengan Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia, Organisasi Shiddiqiyyah (Orshid), Lesbumi NU, Universitas Bung Karno (UBK), Situs Persada Sukarno nDalem Pojok Kediri, Api Bandung.

Hadir sebagai keynote speaker adalah Muhaimin Iskandar, dan sejumlah pembicara antara lain Ketua Lesbumi PBNU Agus Sunyoto, Ketua Kajian MPR A.B Kusuma, dari PCTA Indonesia Tries Edy Wahyono dan Ahmad Mansyur Suryanegara, dan Ketua Program Studi Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Azmi Syahputra.

Cak Imin mengatakan, awalnya banyak yang menganggap ini hanyalah sekadar persoalan dari konteks bahasa saja. Padahal, lanjut dia, ada makna yang fundamental di balik itu semua yakni bangsa Indonesia.

Nah, ujar dia, kalau bicara bangsa tentu di dalamnya tentu sudah membicarakan berbagai hal seperti kesatuan wilayah, persoalan kemanusiaan, kualitas hidup dan kehidupan yang bukan sekadar pembangunan fisik dan makan. “Tapi, pembangunan batin secara utuh dan menyeluruh,” paparnya.

Lebih lanjut ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menuturkan bahwa dua dimensi pembangunan yakni lahiriah dan batiniah tidak dapat dipisahkan. “Kalau hanya satu dimensi saja, pasti pembangunan akan bertemu dengan kegagalan,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pelurusan sejarah ini sebagai bagian dari upaya memberi jawaban atas berbagai keresahan dan disorientasi kehidupan kebangsaan hingga hari ini. Cak Imin mengajak untuk konsisten dan istikamah dalam mewarisi dan mengimplementasikan makna kemerdekaan dalam pondasi kehidupan dan kebangsaan.

“Semoga dari gedung yang penting dan strategis ini harapan ini didengar dan dilaksanakan panitia hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Saya mengajak menikmati rumusan itu sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan kebangsaan,” kata Cak Imin.

Sebelumnya, forum menggelar konvoi 100 mobil dengan stiker-stiker bertuliskan ’17 Agustus Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Bukan Kemerdekaan RI’. Setelah konvoi dilanjutkan dialog. Ketua Panitia Dialog Kebangsaan Suhardono mengatakan konvoi dimulai dari Jakarta Internasional Expo di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) pukul 08.00 dan berakhir di gedung MPR RI.

“Konvoi mobil merupakan bagian dari kampanye atau sosialisasi pelurusan sejarah kepada khakayak, karena pada tiap mobil yang ikut konvoi membawa tulisan ’ 17 Agustus Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Bukan Kemerdekaan Republik Indonesia’,” kata Suhardono.

Setelah konvoi dilanjutkan dengan dialog. Suhardono mengatakan, melalui dialog kebangsaan di lembaga tertinggi negara ini, pihaknya berharap dapat memberikan pertimbangan kepada pemerintah tentang pelurusan sejarah “Kemerdekaan Bangsa Indonesia” kepada masyarakat. Suhardono memaparkan, upaya pelurusan sejarah Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini penting dilakukan.

Sebab, selama puluhan tahun, rakyat Indonesia terjebak dalam stigma “Kemerdekaan Republik Indonesia” tiap kegiatan peringatan kemerdekaan pada bulan Agustus. Padahal, penggunaan istilah ‘Kemerdekaan Republik’ perlu diluruskan menjadi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. (boy/jpnn)

LEAVE A REPLY