BSSN: Serangan Siber Bisa Picu Pergolakan di Dunia Nyata

0
13

Pertama.id-Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi menegaskan bahwa keamanan siber negara harus dijaga dan dikembangkan seluruh komponen bangsa.

Data Global Cybersecurity Index yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) mencatat, keamanan siber Indonesia masih berada di peringkat 70 dari 195 negara dengan skor 0,424. Itu sebabnya, dibutuhkan dukungan dari seluruh sektor untuk membangun keamanan siber di Indonesia.

“Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi dan RUU Keamanan Siber sedang dalam proses dan diharapkan disahkan pada 2019. RUU tersebut termasuk ke dalam Program Legislasi Nasional 2019,” kata Djoko saat membuka Cyber Security Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu (5/12).

Dijelaskan Djoko Setiadi, serangan siber merupakan suatu keniscayaan seiring berkembangnya teknologi informasi. Di sisi lain, serangan siber disinyalir menjadi kambing hitam perselisihan jika disalahgunakan “Satu hal yang tidak bisa dihindari serangan siber merupakan awal mula munculnya pergolakan di dunia nyata,” kata Djoko.

Karena itu, Djoko mengimbau kepada warganet sebagai pengguna dunia siber untuk belajar dari kasus beberapa negara yang sempat bergejolak akibat serangan siber. Djoko mencontohkan pada kejadian krisis ekonomi yang menimpa negara-negara di Eropa.

Menurutnya, krisis yang dialami benua biru itu disebabkan serangan siber terhadap pemangku kebijakan yang menangani bidang ekonomi. Contoh lain adalah pencurian uang yang dialami Bank Dunia beberapa waktu lalu sehingga menimbulkan kerugian besar.

Cyber Security Indonesia 2018 hadir membawa produk dan solusi inovatif dalam ruang lingkup industri keamanan siber dan informasi yang nantinya akan dipamerkan oleh para eksibitor pameran. Selain pameran, CSI 2018 juga menghadirkan program konferensi selama tiga hari acara berlangsung yang membawa seluruh stakeholders mulai dari regulator hingga end users untuk saling berbagi informasi dan pemahaman terhadap topik-topik hangat seputar industri keamanan siber dan informasi tahun ini seperti National Security Focus, Critical Infrastructure Focus, dan Smart City (Industrial IoT) Focus.

CSI 2018 juga mengadakan Jakarta Hacking Competition (JHCom), yang dimulai 5 – 7 Desember 2018 di lokasi acara.

JHCom merupakan kompetisi nasional yang membawa tema keamanan siber dengan metode online dan offline. Kompetisi ini menyuguhkan permainan Capture the Flag (CTF) dan Computer Network Defense (CND). Satu tim terdiri dari tiga pemain dan setiap ronde berfungsi sebagai ronde permulaan hingga tersisa tim-tim pemenang. Tim yang menang dalam ronde online akan diundang untuk bermain saat itu juga di final stage.

Portfolio Director Tarsus Indonesia, Cheah Wai Hong, mengungkapkan, perusahaan memiliki visi yang sejalan dengan pemerintah.

“Saya sangat setuju terhadap apa yang disampaikan kepala BSSN bahwa kita harus melihat aspek-aspek yang bisa meningkatkan ketahanan siber Indonesia dan seluruh komponen bangsa harus ambil bagian dalam menghadapi serangan-serangan siber yang dapat mengancam keamanan negara. Oleh karena itu, kami berharap acara ini bisa menjadi milestone yang mampu mendongkrak kekuatan pertahanan siber Indonesia,” tandas Cheah Wai. (esy/jpnn)

LEAVE A REPLY