Bersiap Hadapi Era 4.0, Kemenperin Mulai Ukur Ratusan Industri

0
22

Pertama.id-Kementerian Perindustrian terus memantapkan kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, ada lima sektor yang sedang diprioritaskan pengembangannya, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronika, dan kimia.

“Kami telah menyusun Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), yang merupakan indeks acuan bagi industri dan pemerintah dalam mengukur tingkat kesiapan industri bertransformasi menuju industri 4.0 di Indonesia,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (19/3).

Ngakan menyebutkan, salah satu tahapan untuk menyosialisasikan dan menerapkan INDI 4.0, Kemenperin aktif menggelar Workshop Self Assessment INDI 4.0.

Kali ini, kegiatan tersebut diikuti sebanyak 100 peserta yang meliputi 50 peserta dari sektor industri makanan minuman serta 50 peserta dari sektor industri elektronika.

“Workshop Self Assessment INDI 4.0 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan mengukur kesiapannya dalam melakukan transformasi menuju industri 4.0,” sebut Ngakan.

Selain itu, diharapkan para peserta akan tergambarkan mengenai posisi kesiapan industrinya saat ini.

“Dari assessment INDI 4.0 ini, akan diberikan award 4.0 kepada industri yang telah mencapai level tertentu dan memiliki journey industri 4.0 di perusahaannya,” imbuhnya.

Nantinya, tim Kemenperin melakukan kunjungan terhadap perusahaan yang masuk dalam kategori tersebut sebagai kandidat penerima award 4.0. Pemberian penghargaan bakal diserahkan saat peluncuran INDI 4.0.

“INDI 4.0 ini rencananya di-launching secara resmi oleh Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam acara bertajuk Indonesia Industrial Summit 2019 pada tanggal 4-6 April 2019 di ICE, BSD Serpong,” papar Ngakan.

Sejak diluncurkannya Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada April 2018, Kemenperin telah menghasilkan beberapa kebijakan strategis dalam upaya implementasi program prioritas peta jalan tersebut.

Antara lain perumusan insentif fiskal berupa Super Deductible Tax untuk perusahaan yang berinvestasi melaksanakan kegiatan litbang inovasi serta pendidikan dan pelatihan vokasi.

Selanjutnya, menelurkan program e-Smart IKM memanfaatkan e-commerce melalui marketplace sehingga dapat memperluas pasarnya. “Kami juga terus mendorong kegiatan rekayasa litbang dan memfasilitasi pembangunan pusat inovasi industri 4.0,” tandas dia. (cuy/jpnn)

LEAVE A REPLY