Berita Duka: Pencipta Lagu Si Jago Mogok Tutup Usia

0
33

Pertama.id-Sang legendaris, telah berpulang. Karyanya di bidang seni dan budaya, membuat warga nyiur melambai kagum dan turut merasa kehilangan. Ya, Jehezkiel Robert Wenas (Om Yessy Wenas) tutup usia yang ke 80 tahun. Jenazah armarhum, Senin (21/1) tiba di Bumi Nyiur Melambai, Manado.

Semasa hidupnya, banyaklah bidang yang almarhum tekuni.

Bahkan, setelah sakit stroke yang dideritanya kurang lebih tiga tahun, beliau masih sempat-sempatnya menjadi pemerhati dan turut terlibat dalam pelestarian kebudayaan Minahasa dengan menjadi anggota Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.

Tidak hanya bergerak di bidang seni dan budaya, sang pencipta lagu Si Jago Mogok ini juga banyak meraih prestasi di bidang olahraga.

Pria kelahiran Tomohon 14 April 1939 ini pun, memiliki pengalaman berorganisasi di seni dan budaya. Sehingga, di masa hidupnya, dirinya masih mengangkat dan memperlihatkan pada masyarakat Indonesia dan kepada sesama Kawanua tentang upacara adat pernikahan, naik rumah baru, pemberian gelar Tonaas dan Walian dan sebagainya dalam bentuk seni pertunjukkan.

Dirinya pun, hendak memperkenalkan sastra bahasa sub-etnis Minahasa yang menyimpan sastra yang tinggi dalam kata, kalimat dan falsafahnya.

Tidak hanya itu, ayah dari 3 anak itu juga menerapkan teknik gambar motif asli kain Bentenan, sebagai motif hias asli Minahasa pada kertas cetakan (ilustrasi buku), kain tenun, ukiran kayu dan batu atau bahan lainnya.

Seperti telah diketahui, masyarakat Minahasa cenderung mencari motif hias bukan asli Minahasa, karena sebelumnya mereka hanya mengenal motif hias Waruga (batu kubur khas Minahasa) yang enggan digunakan. Saat ini meskipun menjadi kontroversi, motif batu Waruga mulai dikembangkan dan diperkenalkan pada masyarakat lewat motif kain.

“Saya sangat bangga dengan sosok seorang legendaris, pencipta lagu dan budayawan Om Yessy Wenas,” ucap Sherty Ribka Lesar Calon Legislatif DPRD Provinsi Sulut Dapil Kota Manado, kepada Manado Post Online (Jawa Post Group), Senin (21/1).

Sherty kepada media ini menyampaikan, semua karya dan karsa dari Almarhum harus dikenang.

Untuk penghormatan kepada beliau, dirinya pun mengimbau kepada seluruh warga Sulut untuk mengembangkan dan mempertahankan aneka adat istiadat yang beragam dalam bentuk tarian, maengket, musik bambu dan musik traditional lainnya sebagaimana yang sudah dilakukan oleh almarhum.

“Itu yang harus kita jaga, pertahankan atau kalo bisa dikembangkan. Agar juga masyarakat Sulut betul-betul mencintai mengembangkan kebudayaan Sulawesi Utara,” tuturnya.

Selama hidup, sang legendaris memilili visi dan misi dimana berbunyi ‘Harus ada orang Minahasa yang mau bergiat mengangkat kembali seni budaya. Minahasa yang sudah hilang sejak satu abad yang lalu.

Menurutnya, erbuat sesuatu untuk tanah kelahiran, bahkan untuk negara, harus masuk dalam rencana hidup. Visi untuk jauh kedepan lintas generasi, jika belum dapat diselesaikan sekarang dapat dilanjutkan oelh generasi angkatan berikutnya. Satu visi yang jelas, lebih baik daripada seratus keinginan yang tidak jelas realisasinya. Misi yang di emban tergantung visi yang terus dikerjakan sepanjang hidup. Uang bukanlah segalanya.(gab)

LEAVE A REPLY