Berdayakan Warga Binaan, Rutan Solo Buka Pabrik Garmen

0
45

Pertama.id – Ruang Bimbingan Kegiatan Rumah Tahanan Klas I Surakarta (Rutan Solo), yang dulunya kumuh dan semrawut, kini terlihat rapi. Bahkan secara tampilan tak terlihat jika ruangan tersebut berada di kompleks rutan dan lebih mirip ruang produksi layaknya sebuah industri. Karena satu ruangan tersebut kini dipenuhi puluhan mesin jahit mesin yang dioperatori warga binaan.

Ya, pihak Rutan Solo memang sengaja merenovasi dan menata ulang Ruang Bimbingan Kegiatan agar sesuai standar, kriteria serta mekanisme kerja layaknya di sebuah industri profesional. Pasalnya, saat ini satu-satunya rutan di kota bengawan itu kini tengah membuka pabrik garment dengan memaksimalkan program pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang masih menjalani hukuman di kesatuan kerja tersebut.

Hasilnya, ruangan yang dulu terlihat kumuh kini disulap menjadi ruang kerja yang memiliki sarana dan prasarana penunjang lengkap terpenuhi. Mulai dari instalasi listrik, kursi dan meja kerja, hingga puluhan mesin jahit.

“Untuk mewujudkan pabrik garment ini, kami menggandeng PT Amura Pratama. Dan karena ini dikelola secara profesional, maka kami pun harus menyiapkan sarana dan prasarana untuk memenuhi standar yang ditentukan mereka sebagai jaminan mutu hasil produksi,” ujar Kepala Rutan Klas I Surakarta, Urip Dharma Yoga.

Pendirian pabrik tersebut, lanjutnya, ditujukan untuk memberikan bekal keterampilan bagi warga binaan, hingga mereka bisa meningkatkan kualitas dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan produktif. Sehingga saat nanti sudah bebas, bisa kembali diterima masyarakat.

“Dan karena kami bekerja sama dengan pihak ketiga, maka pastinya standar produk yang dihasilkan warga binaan harus sesuai standar mereka. Sehingga sebelum bekerja di sini, ratusan warga binaan yang ingin masuk kita seleksi dulu melalui Asesmen Risiko yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas I Surakarta, ” jelasnya.

Dan bagi para warga binaan yang lolos seleksi diberikan dulu pelatihan bersertifikasi hasil kerjasama Rutan Solo dengan Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta. Dimana dari pelatihan tersebut WBP memperoleh keterampilan dasar operasional garmen seperti pemotongan pola bahan, menjahit melalui mesin, serta pengetahuan mengenai tata kelola sebuah pabrik garmen. Saat ini mereka telah menerima pesanan berupa goodie bag sebanyak 3.900 pieces dari masyarakat.

“Warga binaan yang ikut dalam pabrik ini mendapatkan insentif yang bisa digunakan untuk menafkahi keluarga mereka di rumah. Selain itu, dengan bekal pengalaman kerja di sini setelah bebas mereka bisa bekerja karena memiliki keahlian menjahit,” imbuh Urip.

Salah satu warga binaan Rutan Solo, Elfira Anindia (26) mengaku senang bisa bergabung menjadi pegawai di pabrik garmen tersebut. Pasalnya, selain bisa mendapatkan keahlian menjahit, ia juga bisa mendapatkan penghasilan yang halal meski berada di dalam penjara.

“Senang ya, bisa dapat pelatihan dan juga penghasilan. Setelah bebas nanti pelatihan menjahit dan pengalaman kerja di rutan pasti akan menjadi bekal untuk bisa hidup di tengah masyarakat lagi,” ucap napi kasus narkoba itu.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah, A. Yuspahruddin mengatakan, tujuan dari pembangunan pabrik garmen itu adalah mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pembinaan WBP.

“Untuk mengembalikan WBP ke jalan yang benar perlu dukungan penuh semua pihak. Dibutuhkan andil dan perhatian besar masyarakat luar untuk memberikan support kepada WBP, sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka dapat berperan aktif dalam pembangunan, tidak mengulangi tindak pidana dan dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sumber : Jateng Pos

LEAVE A REPLY