Beberapa Penyebab Likuiditas Perbankan Mengetat

0
12

Pertama.id-Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja membeber beberapa faktor yang mengakibatkan likuiditas perbankan mengetat.

Selain pertumbuhan kredit yang telah mencapai double-digit, suku bunga BI 7-day reverse repo rate (BI-7DRRR) yang naik 175 basis poin sejak tahun lalu mulai berdampak.

Salah satunya ialah kenaikan yield obligasi, terutama surat berharga negara (SBN).

Sejak akhir tahun lalu, pemerintah melakukan pre-funding untuk memenuhi kebutuhan anggaran 2019.

Awal tahun ini pemerintah juga mulai agresif menerbitkan surat utang. Salah satunya, instrumen saving bonds retail (SBR005) yang telah diserap pasar Rp 4 triliun.

Kupon surat utang yang menyasar pasar ritel itu cukup tinggi, yakni 8,15 persen per tahun.

’’Kalau BCA jual Rp 2 triliun (di antara target serapan SBR005 Rp 5 triliun), setidaknya 30 persen kan dari dana kami itu. Itu, kan, jadi kanibal. Kami mesti cari replacing-nya. Ini yang terjadi,’’ kata Jahja, Kamis (30/1).

Pemerintah sendiri berencana menerbitkan sepuluh obligasi ritel tahun ini. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi terus berlanjut.

Indikasinya ialah beberapa sektor industri yang diperkirakan tumbuh positif.

Misalnya, industri makanan dan minuman yang bakal tumbuh hingga 20 persen. Itulah pendorong pertumbuhan kredit.

Sementara itu, perayaan pemilu pada kuartal kedua 2019 juga akan meningkatkan penarikan uang dari perbankan.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembayaran dividen kepada investor pada kuartal kedua dan ketiga.

Menurut Jahja, Bank Indonesia (BI) harus mampu menjaga likuiditas dan stabilitas ekonomi.

Sebab, tantangan ekonomi tahun ini masih terasa, terutama kemungkinan penaikan suku bunga acuan dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS). (rin/c14/fal)

LEAVE A REPLY