Bagaimana Perempuan Menjadi Pelaku Teror Bom dan Membawa Anak?

0
40

Bagaimana Perempuan Menjadi Pelaku Teror Bom dan Membawa Anak?

Pertama.id, Jakarta – Serangan bom bunuh diri di Surabaya oleh keluarga: ayah, ibu, dan melibatkan anak-anak di bawah umur, menunjukkan perubahan besar dalam peta aksi teror. Kini perempuan menjadi pelaku aktif dan sangat mungkin memanipulasi anak untuk menjadi pelaku, tulis Lies Marcoes.

“Saya yang menguatkan suami untuk berjihad dengan ikut ISIS di Suriah. Saya bilang ‘jangan takut soal Umi dan anak-anak, rezeki Allah yang atur’. Saya bilang ke suami ‘Izinkan Umi dan anak-anak mencium bau surga melalui Abi, semoga Abi selamat. Tapi kalau tidak, saya ikhlas, saya bersyukur karena dengan suami menjadi syahid, saya dan anak-anak akan terbawa ke surga”.

Ditemui peneliti Center for the Middle East and Global Peace Studies UIN Jakarta, dalam suatu rapat akbar organisasi di Jakarta Barat dua tahun lalu, perempuan separuh baya ini dengan sangat tenang menjelaskan cara berpikirnya tentang jihad dan pengorbanan perempuan.

Menurutnya lelaki kadang-kadang “kurang kuat iman” untuk ikut berjuang karena memikirkan urusan dunia. Urusan dunia dimaksud adalah perasaan berat meninggalkan istri dan anak-anak sementara ia mati sendirian di medan perang.

Dalam testimoni di atas, perempuan meletakkan dirinya sebagai pihak pendukung. Tentu saja peran itu penting tetapi mereka sendiri belum atau tidak terlibat langsung dalam aksi kekerasan. Belakangan, seperti dalam kasus calon bom panci yang melibatkan perempuan Dian Yulia Novi, orang mulai menimbang peran perempuan dalam gerakan radikal teroris. Namun berbeda dengan yang baru saja terjadi di Surabaya (14/5 dan 15/5).

Jika kita hubungan testimoni di atas dengan peristiwa bom bunuh diri di Surabaya yang dilakukan satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, melibatkan empat anak mereka, dua remaja lelaki, dan dua anak perempuan di bawah umur, kelihatannya telah terjadi perubahan besar dalam pelibatan keluarga dalam aksi teror.

Jika sebelumnya, sebagaimana tergambar dalam percakapan awal di atas, perempuan hanya menjadi pihak pendorong, sementara dalam kasus Dian Yilia ia menjadi pelaku aktif namun sedirian dan keburu ditangkap sebelum melancarkan serangan bom, dalam kasus terakhir perempuan menjadi pelaku aktif dan sangat mungkin memanipulasi anak-anak mereka untuk menjadi bagian dari serangan maut itu.

Kita bisa membuat hipotesa, gagasan melakukan aksi bom bunuh diri ini kemungkinan datang dari sang suami, DS mengingat ia adalah alumni perang Siria dan salah satu tokoh organisasi Jemaah Anshorut Daulah (JAD). Namun jika sang istri keberatan atau menolak ajaran suaminya, niscaya cerita tragedi ini akan berbeda.

Atas peristiwa itu, menghitung peran dan pengaruh ibu (perempuan) dalam gerakan radikal tak bisa lagi diabaikan. Dalam pendekatan keamanan, peran itu telah dikenali namun sering dianggap kecil, dibandingkan dengan perhatian kepada peran lelaki sebagai pelaku teror. Menimbang sejumlah kajian yang telah melihat keterlibatan perempua dalam kelompok radikal nampaknya harus menjadi referensi utama.

Dalam tulisan saya di Indonesia at Melborne (26 November 2015) “Why do women joint radical groups” dijelaskan tesis keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris.

Pertama, perempuan adalah kelompok yang pada dasarnya memiliki kerinduan, untuk tidak dikatakan punya agenda, untuk ikut berjuang melawan kezaliman dan kemunkaran kepada Allah. Ini karena mereka adalah peserta aktif oengajian-pengajian dalam kelompok itu. Merekalah “penerjemah” langsung dari konsep jihad dalam teori dan diubah menjadi praktik.

Namun mereka tahu dalam dunia radikalisme terdapat pemilahan peran secara gender di mana “jihad qital” / jihad kabir (maju ke medan tempur- jihad besar) hanya pantas dilakukan oleh lelaki karena watak peperangan yang dianggap hanya cocok untuk dunia lelaki. Dengan dasar peran itu , mereka menempatkan diri sebagai pendorig dan penguat iman suami.

Kedua, dalam konsep kaum radikal, terdapat dua level jihad yaitu jihad kecil dan jihad besar. Jihad besar merupakan pucak dari pengorbanan seseorang yaitu pergi ke medan tempur dan mati sebagai syuhada, martir. Namun, karena terdapat pemilahan peran secara gender, otomatis hanya lelaki yang punya tiket maju ke medan tempur, sementara istri hanya kebagian jihad kecil, seperti menyiapkan suami atau anak lelaki maju ke medan tempur. Jihad kecil lainnya adalah mempunyai anak sebanyak-banyaknya, terutama anak lelaki- jindi- yang kelak siap menjadi jundullah – tentara Tuhan. Dalam percakapan antar mereka, memiliki jindi merupakan sebuah kebanggaan, ” sudah berapa jindi ukhti”- sudah berapa calon tentara Tuhan yang kamu miliki”?

Ketiga, sebagaimana umumnya dalam organisasi keagamaan, secara umum peran perempuan dalam kelompok radikal sesungguhnya tidak utama dan bukan sentral. Namun peran mereka akan cepat direkognisi dan dihormati jika mereka dapat menunjukkan keberaniannya dalam berkorban, termasuk korban jiwa dan raga. Rekognisi peran ini merupakan salah satu kata kunci penting dalam mengenali keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal. Dorongan untuk menjadi terkenal kesalehannya, atau keikhlasannya atau keberaniannya melepas suaminya berjihad menjadi idaman setiap perempuan dalam kelompok radikal, apatah lagi untuk ikut berjihad.

Dalam tulisan saya di Indonesia at Melborne (26 November 2015) “Why do women joint radical groups” dijelaskan tesis keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris.

Pertama, perempuan adalah kelompok yang pada dasarnya memiliki kerinduan, untuk tidak dikatakan punya agenda, untuk ikut berjuang melawan kezaliman dan kemunkaran kepada Allah. Ini karena mereka adalah peserta aktif oengajian-pengajian dalam kelompok itu. Merekalah “penerjemah” langsung dari konsep jihad dalam teori dan diubah menjadi praktik.

Namun mereka tahu dalam dunia radikalisme terdapat pemilahan peran secara gender di mana “jihad qital” / jihad kabir (maju ke medan tempur- jihad besar) hanya pantas dilakukan oleh lelaki karena watak peperangan yang dianggap hanya cocok untuk dunia lelaki. Dengan dasar peran itu , mereka menempatkan diri sebagai pendorig dan penguat iman suami.

Kedua, dalam konsep kaum radikal, terdapat dua level jihad yaitu jihad kecil dan jihad besar. Jihad besar merupakan pucak dari pengorbanan seseorang yaitu pergi ke medan tempur dan mati sebagai syuhada, martir. Namun, karena terdapat pemilahan peran secara gender, otomatis hanya lelaki yang punya tiket maju ke medan tempur, sementara istri hanya kebagian jihad kecil, seperti menyiapkan suami atau anak lelaki maju ke medan tempur. Jihad kecil lainnya adalah mempunyai anak sebanyak-banyaknya, terutama anak lelaki- jindi- yang kelak siap menjadi jundullah – tentara Tuhan. Dalam percakapan antar mereka, memiliki jindi merupakan sebuah kebanggaan, ” sudah berapa jindi ukhti”- sudah berapa calon tentara Tuhan yang kamu miliki”?

Ketiga, sebagaimana umumnya dalam organisasi keagamaan, secara umum peran perempuan dalam kelompok radikal sesungguhnya tidak utama dan bukan sentral. Namun peran mereka akan cepat direkognisi dan dihormati jika mereka dapat menunjukkan keberaniannya dalam berkorban, termasuk korban jiwa dan raga. Rekognisi peran ini merupakan salah satu kata kunci penting dalam mengenali keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal. Dorongan untuk menjadi terkenal kesalehannya, atau keikhlasannya atau keberaniannya melepas suaminya berjihad menjadi idaman setiap perempuan dalam kelompok radikal, apatah lagi untuk ikut berjihad.

Dalam perkembangannya, menjalani jihad kecil sebagai penopang dalam berjihad tak terlalu diminati utamanya oleh kalangan perempuan muda yang merasa punya agenda untuk ikut berjuang dengan caranya. Dan seperti kita saksikan, di sejumlah negara, perempuan muda dikabarkan menghilang dari keluarga dengan alasan yang mengejutkan. Mereka meninggalkan rumah untuk bergabung dengan kelompok teroris dengan ideologi agama, seperti ISIS atau menikah dengan lelaki yang menjadi bagian dari kelompok itu.

Jika tidak ikut berjihad mereka punya cara sendiri untuk melakukannya di negara mereka sendiri. Hal ini bisa dilihat dalam kasus Hasna Aitboulahcen, perempuan pertama pelaku bom bunuh diri di Saint- Denis Perancis beberapa tahun lalu. Sebelumnya Hasna tidak dikenal sebagai sebagai perempuan saleh, sebaliknya ia dianggap perempuan “bebas”, namun entah bagaimana setelah berkenalan dengan seseorang yag mengajaknya bertaubat dan berhijrah, ia kemudian dikenali menjadi sangat salehah, menggunakan hijab, rajin beribadah, dan hanya butuh satu bulan baginya untuk kemudian tewas bersama bom yang ia ledakkan sendiri.

Hasna diajak seseorang namun ia tak mengajak siapa-siapa. Namun, lihatlah apa yang terjadi kepada sebuah keluarga Indonesia, seorang suami, istri, termasuk balita, bayi dan seorang perempuan hamil, menyelinap keluar dari kelompok tur mereka di Turki dan menyeberang ke Suriah di bulan Maret 2015. Pakar terorisme Indonesia Sidney Jones mengatakan bahwa penelitiannya telah mengidentifikasi tentang 40 perempuan Indonesia dan 100 anak-anak di bawah 15 tahun ada di Suriah, sebagian merasa terjebak oleh ajakan untuk berjihad sebagian lain secara mandiri menjadi bagian dari ISIS.

Dari fenomena bom Surabaya, agaknya, analisis soal keterlibatan perempuan dalam gerakan radikal tak bisa lagi dilihat sekedar foot note. Terlebih karena keterlibatan itu tak lagi bersifat individual sebagai hasrat untuk direkognisi dalam kelompok radikal sebagai perempuan pemberani, melainkan karena peran tradisonalnya sebagai istri dan ibu yang memiliki kekuatan nyata untuk melibatkan suami dan anggota keluarga sebagai pelaku teror dan kekerasan.

Perhatian kepada perempuan tak bisa lagi hanya dilihat dalam fungsi pendamping dan pendukung radikalisme melainkan sebagai pelaku utama yang memiliki impian untuk mencium bau surga hanya melalui suaminya melainkan melalui perannya sendiri dengan membawa anak-anak yang telah ia kuatkan dan yakinkan.

Artikel-artikel semacam ini akan hadir berkala di BBC Indonesia, karya berbagai penulis, mencakup beragam tema. Tulisan-tulisan itu merupakan pandangan pribadi penulis sepenuhnya.

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY