Anak Muda Saat Ini Lebih Mudah Terpapar Radikalisme

    0
    29
    Pertama.id. Sebagian anak muda saat ini lebih mudah terpapar radikalisme. Hal tersebut disampaikan koordinator Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Tedi Kholiludin dalam konferensi Merawat Kebhinekaan Melalui Kebebasan Beragama di IFGF Semarang.

    Menurut Tedi, semangat anak muda untuk mempelajari agama saat ini tergolong sangat besar. Namun demikian, dia menyayangkan kebanyakan dari mereka tidak mempelajari agama secara mendalam.

    “Sehingga berpotensi besar untuk terpapar radikalisme. Misal seperti ini, bagi anak muda saat mereka terlibat dalam gerakan penolakan rumah ibadah, itu menarik bagi mereka. Ya contoh besarnya kalau misal mereka mau melakukan bom bunuh diri,” kata Tedi, Senin (18/11).

    Tedi menerangkan, terdapat beberapa alasan mengapa anak muda saat ini lebih muda terpapar radikalisme. Pertama, katanya, adanya semangat perlawanan terhadap penindasan.

    Kemudian adanya keinginan untuk dapat eksis dalam sebuah lingkungan sosial.

    “Ada juga soal semangat belajar agama. Namun tidak secara mendalam,” tegas dia.

    Tedi mengimbau kepada banyak anak muda agar dapat belajar agama secara mendalam. Dia juga mengingatkan bahwa tidak semua kegiatan keagaman selalu berkaitan dengan agama.

    “Banyak agenda dan kepentingan yang saat ini sudah masuk dalam agenda keagamaan. Ini yang harus diteliti, agar anak muda tidak mudah terseret ke dalam radikalisme,” tutur dia.

    Sementara itu, koordinator acara, Boas Panggabean, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada umat beragama minoritas agar tidak mudah tersulut amarah pada aksi persekusi yang marak terjadi.

    Menurutnya, sebagai anak bangsa Indonesia, haruslah dapat menjadi agen dalam merawat Kebhinekaan di NKRI ini.

    “Kita harus merubah diri. Kita harus menjadi agen dalam merawat kebhinekaan ini. Kita tidak bisa melakukan pembalasan karena itu akan jadi sama saja,” tegas Boas.

    Boas meminta kepada segenap umat beragama agar dapat menggunakan hak hukumnya sebagai warga negara Indonesia.

    Menurut dia cara itu yang dapat menjadi kekuatan sebagai warga negara yang mendukung Hak Asasi Manusia ini.

    “Kita ikuti aturan hukumnya. Tidak bisa lantas melakukan tindakan tanpa dasar hukum yang tidak kuat. Maka itu, kami imbau kepada umat beragama minoritas agar mau menggunakan hak hukumnya sebagai warga negara,” pungkas dia. [jie]

    Sumber : RMOL Jateng

    LEAVE A REPLY