Akan Lengser Juli 2019, Bupati Talaud Selalu Tampil Modis

0
143

 Akan Lengser Juli 2019, Bupati Talaud Selalu Tampil Modis

Pertama.id – Satu lagi kepala daerah terjerat dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip ditangkap KPK kemarin (30/4) pukul 11.20 Wita di kantornya.

Berdasar informasi yang dihimpun Manado Post, penangkapan Manalip diduga terkait dengan penyalahgunaan APBD Kabupaten Talaud. Manalip digiring ke Manado dengan menggunakan pesawat Wings Air nomor penerbangan IW1163.

Setiba di Manado bersama tim KPK, dari pemantauan Manado Post, Manalip tampak memakai topi merah muda. Wajahnya pucat dan lesu.

Di Bandara Sam Ratulangi Manado, tim KPK terlihat membungkus beberapa handphone Manalip dengan plastik transparan. Tim KPK maupun Manalip tidak mau berkomentar sedikit pun. Saat hendak difoto, Manalip memalingkan wajah.

Sempat terjadi pembicaraan serius antara Manalip dan tim KPK. Namun, tidak ada yang bisa mendekat. Sebab, penjagaan di area bandara diperketat. Manalip kemudian langsung dibawa ke gedung atas bandara. Namun, Manalip hanya transit sekitar 5 menit.

Para petugas KPK tampak mensterilkan lokasi menuju pesawat. “Semua sudah siap,” ujar seorang petugas KPK. Manalip dan tim KPK langsung bertolak ke Jakarta dengan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA601.

Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip saat di kantor KPK, Jakarta, Selasa (30/4) malam. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif menjelaskan, selain Manalip, pihaknya menangkap satu orang lagi. Namun, dia enggan menyebutkan identitas orang tersebut. “Mereka (dua orang yang ditangkap, Red) sedang dalam perjalanan ke kantor KPK di Jakarta,” katanya.

Dia menegaskan, rangkaian OTT berlangsung sejak Senin (29/4) tengah malam. Selain di Talaud dan Manado, penindakan dilakukan di Jakarta. KPK mengamankan empat orang dari pihak swasta. Saat ini mereka berada di kantor KPK.

KPK mengendus penerimaan hadiah berupa tas, jam, dan berlian dengan nilai ratusan juta untuk bupati Talaud. Hadiah-hadiah itu diduga merupakan bagian dari suap proyek pengadaan di Talaud.

Menurut informasi, barang-barang tersebut akan diberikan kepada bupati sebagai hadiah ulang tahun ke-42 pada 8 Mei.

Kepada para wartawan di KPK, Manalip membantah menerima suap. Dia tidak tahu alasan KPK menangkapnya. “Saya tidak tahu apa-apa, mengapa ini saya kok dibawa ke sini (kantor KPK, Red)? Saya bingung, kok tiba-tiba dibawa,” kata Manalip sebelum masuk ke kantor KPK.

Nama Sri Wahyumi Maria Manalip sempat menghiasi berbagai media massa. Sebab, bupati berusia 42 tahun itu beberapa kali membikin kontroversi. Dia pernah menjabat ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Talaud pada 2013. Namun, Manalip akhirnya diberhentikan karena berseteru dengan elite partainya sendiri. Pada Agustus 2017 dia juga dipecat sebagai kader PDIP.

Bupati Kepulauan Talaud , Sri Wahyumi Maria Manalip. (Instagram SWManalip)

Bupati cantik yang selalu tampil modis tersebut juga beberapa kali ditegur Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Manalip bahkan sempat dinonaktifkan sebagai bupati Talaud selama tiga bulan. Gara-garanya, dia bepergian ke Amerika Serikat pada 20 Oktober hingga 13 September 2017 tanpa izin gubernur Sulawesi Utara.

Pada 2018 Manalip kembali ditegur Kemendagri karena memutasi ratusan ASN tak lama setelah pilkada. Pada pilkada tersebut, sang petahana gagal mempertahankan jabatannya. Kursinya akan digantikan kompetitornya, Elly Lasut. Manalip sendiri bakal lengser pada Juli tahun ini.

Tadi malam KPK menetapkan Manalip sebagai tersangka suap pengadaan barang dan jasa tahun anggaran 2019. Manalip yang tercatat memiliki kekayaan Rp 2,24 miliar di LHKPN KPK itu menyusul jejak kepala daerah perempuan yang menjadi “pasien” KPK. Sebelumnya, KPK menyeret Bupati Kutai Kartanegera (Kukar) Rita Widyasari dan Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin sebagai tersangka korupsi. KPK juga pernah menetapkan Bupati Klaten Sri Hartini sebagai tersangka.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, Manalip melalui orang kepercayaannya, Benhur Lalenoh, diduga meminta fee 10 persen kepada para kontraktor yang ingin mendapat proyek di Pemkab Kepulauan Talaud. Dalam praktik ini, Benhur yang merupakan anggota tim sukses (timses) Manalip gerilya mencari rekanan yang bersedia memberikan fee 10 persen.

Benhur pun menawarkan proyek tersebut kepada seorang pengusaha, Bernard Hanafi Kalalo. Proyek yang ditawarkan adalah revitalisasi Pasar Lirung dan Pasar Bao. Kemudian, sebagai bagian dari komisi itu, Benhur meminta Bernard memberikan barang-barang mewah kepada Manalip. Pertengahan April lalu, Benhur mengajak Bernard untuk bertemu dengan Manalip di Jakarta.

“Kode fee dalam perkara ini adalah DP teknis,” ungkap Basaria, memaparkan sandi komunikasi yang digunakan Benhur dan Bernard terkait dengan dugaan transaksi suap tersebut.

Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip (dok. JawaPos.com)

KPK lantas mengamankan barang-barang mewah yang diduga dibeli Bernard bersama anaknya di Jakarta untuk Manalip. Di antaranya, handbag Chanel, tas Balenciaga, jam tangan Rolex, anting dan cincin berlian Adelle. Barang-barang mewah itu ditaksir bernilai ratusan juta rupiah. Selain barang mewah, KPK juga mengamankan uang tunai Rp 50 juta dalam OTT itu. Bila ditotal, barang mewah dan uang tunai itu senilai Rp 513,855 juta.

“KPK mengidentifikasi adanya komunikasi yang aktif antara bupati dengan BNL (Benhur) atau pihak lain terkait dengan proyek dan pemilihan merek tas dan ukuran jam yang diminta,” paparnya.

Basaria menyebut, awalnya Manalip hendak dibelikan tas Hermes. Namun, Manalip menolak karena sudah ada pejabat perempuan di Talaud yang memiliki tas merek itu.

Selain Manalip, KPK juga menetapkan Benhur dan Bernard sebagai tersangka. Manalip dan Benhur disangka sebagai penerima suap dan dijerat dengan pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara Bernard disangka dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau pasal 13 UU Pemberantasan Tipikor.

sumber : jawapos

LEAVE A REPLY