6 BUMN Karya Paling Moncer, Waskita Juaranya

0
143

Pertama.id-PT Waskita Karya (Persero) Tbk berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 68,65 persen pada kuartal pertama 2018 (yoy) menjadi Rp 12,3 triliun.

Laba bersih perseroan mencapai Rp 1,7 triliun. Catatan itu membuat Waskita Karya menjadi BUMN Karya dengan kinerja paling kinclong.

Posisi kedua ditempati Jasa Marga yang berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan 92,8 persen menjadi Rp 9,6 triliun.

Capaian laba bersih perseroan mencapai Rp 560 miliar. Sementara itu, Wijaya Karya berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan 64 persen menjadi Rp 6,2 triliun. Emiten berkode WIKA itu pun meraup laba bersih Rp 215 miliar.

Hutama Karya mencatatkan kenaikan pendapatan 110 persen menjadi Rp 4,8 triliun. Perseroan berhasil mencetak laba bersih Rp 200 miliar.

PT PP juga berhasil mencatatkan pendapatan Rp 3,6 triliun atau tumbuh 26 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih perseroan turut terkerek 26 persen menjadi Rp 204 miliar.

Di posisi keenam terdapat Adhi Karya yang meraup pendapatan Rp 3,1 triliun atau tumbuh 92,8 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama.

BUMN berkode dagang ADHI itu juga mampu meraih laba bersih Rp 73 miliar.

Rata-rata pertumbuhan aset enam BUMN tersebut berada di angka 55,98 persen. Pertumbuhan aset itu didukung pertambahan liabilitas yang rata-ratanya 72,77 persen.

Ekuitas keenam perusahaan tumbuh cukup baik. Ekuitas Hutama Karya naik menjadi Rp 8,7 triliun jika dibandingkan dengan capaian periode sama tahun lalu (Rp 7,6 triliun).

Ekuitas Waskita naik menjadi Rp 24,4 triliun bila dibandingkan dengan capaian periode sama tahun lalu (Rp 20,2 triliun).

Ekuitas WIKA naik menjadi Rp 14,7 triliun kalau dibandingkan dengan kuartal I 2017 sebesar Rp 12,7 triliun.

Begitu pun ADHI, PT PP, dan Jasa Marga. Hingga 31 Maret 2018, ekuitas tiga emiten tersebut masing-masing sebesar Rp 5,9 triliun, Rp 14,6 triliun, dan Rp 18,9 triliun.

Capaian itu tumbuh cukup baik bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Ketika itu ekuitas ADHI berada di angka Rp 5,3 triliun, PT PP Rp 10,6 triliun, dan Jasa Marga Rp 16,4 triliun.

Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana-Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN Ahmad Bambang menuturkan, pihaknya juga terus mengikuti perkembangan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut.

Termasuk mengawasi dan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada, baik tagihan dana talangan maupun alternatif pendanaan.

’’Salah satu yang sudah kami lakukan adalah fasilitas pendanaan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) ruas tol Waskita Karya dan Jasa Marga, serta mengupayakan pembayaran proyek infrastruktur LRT Palembang yang ditalangi Waskita Karya selaku kontraktor,’’ kata Bambang, Rabu (6/6). (vir/c14/sof)

LEAVE A REPLY