4 Anggota Polres Pamekasan Lolos dari Kepungan Massa Berkat Hal ini

0
33

Pertama.id – Sebanyak empat anggota Polres Pamekasan, Jawa Timur, dikepung ratusan massa.

Keempatnya dikepung saat mendatangi Pondok Pesantren Al-Islah yang berada di Kecamatan Palengaan.

Keempat polisi itu berkunjung ke Ponpes Al-Islah untuk menyosialisasikan pencegahan paham radikal dan terorisme.

Menurut Kepala Bagian Humas (Kabaghumas) Polres Pamekasan AKP Nining Dyah, peristiwa itu terjadi pada Kamis (27/10) kemarin.

“Mereka diadang saat hendak keluar pondok pesantren oleh warga sekitar.” “Personel yang berjumlah empat orang itu lolos dari kepungan massa dengan selamat berkat bantuan pengurus pondok pesantren,” ujar Nining di Pamekasan, Sabtu (29/10).

Menurut Nining, sekelompok massa datang ke pondok pesantren asuhan Kiai Ali Salim di Desa Angsanah karena salah paham.

Warga mendapat kabar kedatangan polisi untuk mencegah pengajian yang digelar kelompok pencinta Habib Rizieq Shihab pada Minggu (30/10) di Pamekasan.

Padahal, lanjutnya, keempat polisi itu datang ke Pondok Pesantren Al-Islah dalam rangka silaturahmi dengan pimpinan pondok pesantren.

Keempat polisi itu juga datang ke Ponpes Al-Islah untuk berkoordinasi dan memberikan penyuluhan tentang pencegahan paham radikal dan terorisme.

Anggota Polres Pamekasan dalam kesempatan tersebut juga menyerahkan bantuan lampu penerangan untuk area Ponpes Al-Islah.

“Karena ada kabar yang keliru, maka warga berdatangan dan mengadang mobil patroli Binmas yang dikendarai keempat orang personel Polres Pamekasan ini,” kata Nining.

Sementara itu, sebuah rekaman video beredar di media sosial memperlihatkan adanya sekelompok massa mendatangi Pondok Pesantren Al-Islah dengan membawa senjata tajam berjenis celurit.

Massa berjumlah ratusan orang itu mengadang mobil Binmas polisi. Kapolres Pamekasan AKBP Rogib Triyanto sebelumnya mengatakan Polres Pamekasan memang sedang menggelar Operasi Bina Waspada Semeru 2022.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran paham radikal dan melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan adanya warga terlibat jaringan terorisme.

Operasi tersebut merupakan upaya jangka panjang untuk mencegah adanya warga yang terpapar paham radikalisme.

Operasi Bina Waspada Semeru 2022 digelar dengan memberikan penyuluhan dan sosialisasi ke pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan (ormas) bidang keagamaan, serta lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama.

Melalui operasi tersebut polisi ingin mengajak para pengasuh pondok pesantren untuk proaktif dalam kegiatan pencegahan paham radikal.

“Intinya, melalui Operasi Bina Waspada 2022 ini kami menginginkan tercipta situasi yang kondusif melalui pendekatan pemahaman keagamaan yang toleran, sehingga bisa saling menghargai perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lain,” kata Rogib.

Sementara itu, Kepala Desa Angsanah Moh. Masduki menjelaskan aksi massa terjadi karena salah paham.

“Kejadian itu murni salah paham karena kabar yang beredar ke masyarakat menyebutkan kedatangan polisi ke Pondok Pesantren Al-Islah dalam rangka mengintimidasi pengasuh pondok pesantren agar menggagalkan kegiatan pengajian akbar yang akan dihadiri oleh Habib Bahar (sebagai penceramah) pada 30 Oktober 2022.” “Padahal, polisi datang untuk bersilaturahmi saja,” kata Masduki.

Masduki mengajak seluruh elemen masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan kabar berita yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi menimbulkan situasi tidak kondusif.

Sumber : JPNN

LEAVE A REPLY