3 Provinsi Ini Belum Lepas dari Gizi Buruk dan Stunting

0
67

Pertama.id-Gizi buruk masih membayangi peringatan Hari Gizi Nasional, 25 Januari 2019. Temuan Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas), di sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten masih ditemukan anak-anak kurang gizi.

Mayoritas dari mereka adalah anak-anak yang diberikan susu kental manis (SKM) sebagai penambah nutrisi. Padahal, sebenarnya SKM tidak laik dikonsumsi sebagai minuman untuk anak usia 1-5 tahun.

Ketua Kopmas, Arif Hidayat mengatakan, meskipun berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan perbaikan status gizi pada balita di Indonesia, tapi ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak di Indonesia.

Hal itu berakar dari minimnya edukasi masyarakat mengenai 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan tumbuh kembang anak.

“Dari hasil pemantauan kami di beberapa wilayah, permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah akses kesehatan yang sulit dijangkau, belum memiliki atau terkendala BPJS hingga pengetahuan masyarakat tentang gizi dan tumbuh kembang anak sangat minim. Kami masih menemukan bayi dan balita yang mengkonsumsi susu kental manis bahkan minuman ringan rasa kopi susu, karena orang tua beranggapan minuman tersebut adalah susu yang dapat mencukupi gizi anak,” jelas Arif, Rabu (30/1).

Berdasarkan pengaduan yang diterima Kopmas, pada periode November sampai Desember 2018, ditemukan 12 keluarga di Jawa Barat dan 1 keluarga di Malang yang kesulitan akses kesehatan seperti BPJS Kesehatan.

Sebanyak 12 anak terindikasi mengalami gizi buruk: di Kabupaten Bandung 1 anak, Kabupaten Bandung Barat 4 anak, Indramayu 4 anak, Cirebon 2 anak dan Malang 1 anak .

Arif menambahkan, dari kunjungan tersebut masih ditemukan orang tua yang memberikan SKM sebagai minuman bernutrisi. Akibatnya, mereka justru kekurangan nutrisi bahkan terindikasi mengalami gizi buruk.

“Pemahaman yang salah di masyarakat kita hingga saat ini bahwa SKM adalah susu yang memiliki nutrisi tinggi bagi anak-anak terutama bayi padahal sudah kandungan gula pada SKM 50% adalah gula,” ujar Arif.

Kalau datang langsung ke kampung-kampung yang aksesnya sulit dijangkau, lanjutnya, mungkin akan ditemukan lebih banyak lagi penderita gizi buruk. Itu sebabnya, perlu adanya sinergi baik pemerintah dan swasta maupun lembaga-lembaga non pemerintah atau LSM.

Perlu diketahui, proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8%. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6% (Riskesdas 2013) menjadi 17,7%.

Namun yang perlu menjadi perhatian adalah adanya tren peningkatan proporsi obesitas pada orang dewasa sejak 2007 sebagai berikut 10,5% (Riskesdas 2007), 14,8% (Riskesdas 2013) dan 21,8% (Riskesdas 2018). (esy/jpnn)

LEAVE A REPLY